Jumat, 16 Maret 2018

Kisah Cinta Kepada Allah

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh... Hai sahabat,❤❤ MY RESUME 


Iman terkadang naik turun, salah satu untuk memperahankan keisyiqamahan kita adalah banyak membaca kisah kisah cinta kepada allah.
saya bukanlah orang yang mengetahui segalanya tentang cinta, hanya saja ada beberapa buku mengenai itu yang saya baca, dan saya buat ringkasanya, , mungkin ini bisa bermanfaat untuk para pembaca budiman, perlu diketahui disini saya tidak bermaksud mencopy tulisan orang lain, saya hanya ingin menshare ilmu yang sudah saya dapat dari buku yang saya baca, dan apa salahnya berbagi ilmu.

Judul Buku : Buku Kisah Cinta Kepada Allah
Karangan : Syaikh Usamah Nu'aim Mustofa
                     Syaikh Najib Khalid Al-Amir

50.
ANDAI KATA KAMU MEN GETAHUI APA YANG AKU KETAHUI, NISCAYA KAMU AKAN JARANG TERTAWA DAN LEBIH SERiNG MENANGIS

Abdullah bin Amr bin Ash mengatakan, “Andaikata kamu mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kamu jarang tertawa dan lebih sering menangis. Dan andaikata kamu benar-benar mengetahui, niscaya kamu akan berteriak sampai habis suaramu, dan kamu akan sujud sampai patah tulang punggungmu.” (Ililyatul Auliya”, Abu Nu'aim, 3/ 146)

51

ANDAI KATA KAMU MENGETAHUI APA YANG AKU KETAHUI, NISCAYA KAMU AKAN JARANG TERTAWA DAN LEBIH SERING MENANGIS

      Abdullah bin Amr bin Ash mengatakan, “Andaikata kamu mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kamu jarang tertawa dan lebih sering menangis. Dan andaikata kamu benar-benar mengetahui, niscaya kamu akan berteriak sampai habis suaramu, dan kamu akan sujud sampai patah tulang punggungmu.” (I-Iilyatul Auliya', Abu Nu’aim, 3/146)

55

DEMI ALLAH, AKU TIDAK TAHU APA YANG AKAN TERJADI PADAKU

     Jarir bin Hazim mengatakan bahwa ia pernah mendengar Hasan bin Ali berkata, “Aku berjumpa dengan orang-orang yang ditawari kekayaan duniawi, tetapi mereka meninggalkannya seraya berujar, “Demi Allah, aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku , jika kekayaan ini benar-benar di tanganku.” (Az-Zuhd, Ibnu Mubarok, hal.175)

54

TANDA-TANDA KEYAKlNAN
Ibnu Qayyim Al-Jauziyah mengatakan bahwa ada tiga landa tanda keyakinan yaitu:
1. Melihat (ingat) Allah di dalam segala hal.
2. Kembali kepada Allah dalam semua urusan.
3. Meminta pertolongan kepada Allah dalam berbagai keadaan. (Madarijus Salz'kin, Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, 2/398)


62

SURGA ADALAH KESlBUKANKU DAN TEMPAT KEABADlANKU

          Salah seorang mantan budak Abu Raihanah mengatakan bahwa ketika Abu Raihanah kembali dari medan perang, dia pulang ke rumah keluarganya dan menyantap makan malamnya. Kemudian dia mengambil air wudhu, pergi ke tempat shalatnya. Lalu dia membaca satu surat dan dilanjutkan dengan surat berikutnya. Dia terusmenerus seperti itu. Setiap kali selesai membaca satu surat, dia mulai dengan surat yang baru hingga mu'adzin mengumandangkan adzan Subuh. Ketika itu dia pun merapikan pakaiannya, lalu tiba-tiba istrinya mendatanginya dan berkata, “Hai Abu Raihanah, engkau telah pergi berperang dan kelelahan di medan perangmu, lalu engkau datang kepadaku, tetapi aku sama sekali tidak mendapatkan bagian sedikitpun darimu.”
         Lalu Abu Raihanah menjawab, “Oh ya, demi Allah, engkau sama sekali tidak terlintas di dalam benakku. Andaikata aku ”IC mengingatmu, niscaya engkau memiliki hak atas diriku. Lalu apa yang menyibukkanmu, hai Abu Raihanah?” tanya istrinya. Dia menjawab, “Hatiku masih terpesona oleh pemaparan yang disampaikan oleh Allah tentang isi Surga-Nya, seperti pakaian, pasangan hidup, kenikmatan dan kelezatannya, sampai aku mendengar suara adzan.” (AI-Khusyuk Fi Ash-Shalat, Ibnu Rajah, hal. 30)

67

HAl MANUSlA, AKU BENAR-BENAR MENASEHATIMU

       Abu Dzar Al-Ghifari & berkata, “Hai manusia, aku benarbenar menasihatimu. Aku benar-benar sayang kepadamu. Shalatlah di kegelapan malam untuk mengantisipasi seramnya kubur. Puasalah di siang hari untuk menghadapi panasnya Hari Berbangkit, dan bersedekahlah untuk menghindari hari yang sulit. Hai manusia, aku benar-benar menasihatimu. Aku benar-benar sayang kepadamu.” (Az-Zuhd Wa Ar-Raqa’iq, Ibnu Mubarak, ha1.304-305)

69

ITU ADALAH lNTl DARI SEMUA PERSOALAN

          Mu'awiyah bin Qurrah berkata, “Aku pernah menemui Hasan bin Ali ketika dia' sedang bersandar di atas dipannya. Lalu aku bertanya, “llai Abu Sa’id, amal apakah yang paling disukai Allah?” Dia menjawab, “Shalat di tengah malam ketika manusia tertidur lelap.” “Lalu puasa apa yang paling utama?” tanyaku. Dia menjawab, “Puasa pada hari yang sangat panas.” Lalu aku bertanya, “Budak apa yang paling baik (untuk dimerdekakan)?” Dia menjawab, “Yang paling berharga bagi pemiliknya dan paling mahal harganya.” Lalu aku bertanya, “Apa pendapatmu tentang wara” (menjaga diri dari hal-hal yang haram)?” Dia menjawab, “Itu adalah inti dari semua persoalan.” (Shalahul Ummah, Sayyid Al-Afani, 4/324-325)

71

TANDA CINTA KEPADA ALLAH

         Rabi' bin Anas berkata, “Tanda cinta kepada Allah adalah dengan banyak menyebut-Nya. Sebab, setiap kali engkau mencintai sesuatu, maka engkau akan sering menyebutnya. Sedangkan tanda agama adalah ikhlas kepada Allah di saat tertutup maupun terbuka. Dan tanda syukur adalah rela menerima takdir (ketentuan) Allah dan pasrah terhadap qadla (keputusan)-Nya.” (Madarijus Salikin, Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, 2/218)

79

NERAKA MEMBUATNYA TIDAK TIDUR

       Malik pernah mengatakan, “Dulu Sofwan bin Sulaim suka mengerjakan shalat malam pada musim dingin di atas atap dan pada musim panas di dalam rumah. Dia berusaha agar terus terjaga dengan media panas dan dingin sampai Subuh.”
       Lalu dia mengatakan, “Itulah kesungguhan dari seorang Sofwan. Dan anda lebih tahu bahwa kedua kakinya bengkak sampai dia seperti orang cacat akibat shalat malam. Tampaklah urat-urat yang berwarna hijau. Dulu, Sofwan dan para ahli ibadah lainnya suka mengerjakan shalat malam pada musim dingin hanya dengan memakai satu baju, agar hawa dingin bisa mencegahnya dari tidur. Ada juga di antara mereka yang apabila mengantuk, maka dia merendam dirinya di dalam air seraya bergumam, “Ini lebih ringan daripada nanah Neraka Jahannam.” (Ruhbanul Lail, hal.185)

82

AKU TIDAK TAHU MANA YANG LEBIH BAIK

        Yunus bin Ubaid mengatakan, “Ada seorang pria yang bertanya kepada Abu Tamimah, “Apa kabarmu pagi ini?” Dia menjawab, “Pagi ini aku mendapatkan dua anugerah yang aku tidak tahu mana yang lebih baik di antara keduanya; dosa-dosa yang ditutupi oleh Allah, sehingga tidak ada orang yang mengejekku, dan rasa cinta yang dihujamkan oleh Allah ke dalam hati para hamba (kepadaku) yang tidak mungkin bisa kuketahui. (Uddatus Shobz'rin, Ibnu Qayyim AlJauziyah, hal.119)

85

PENGAKUAN YANG SEHARUSNYA

      Anbasah bin Azhar mengatakan, “Muharib bin Datstsar adalah seorang qadli (hakim) bagi warga Kufah. Rumahnya bersebelahan dengan rumahku. Terkadang di malam hari aku mendengar suaranya yang keras “mengatakan, “Aku adalah anak kecil yang Engkau pelihara, maka segala puji bagi-Mu. Aku adalah orang lemah yang Engkau kuatkan, maka segala puji bagi-Mu. Aku adalah orang miskin yang Engkau ubah menjadi kaya, maka segala puji bagi-Mu. Aku ' adalah orang asing yang Engkau urus dengan baik, maka segala puji bagi-Mu. Aku adalah orang melarat yang Engkau beri harta, maka segala puji bagi-Mu. Aku adalah bujangan yang Engkau nikahkan, maka segala puji bagi-Mu. Aku adalah orang lapar yang Engkau beri makanan, maka segala puji bagi-Mu. Aku adalah orang telanjang yang Engkau beri pakaian, maka segala puji bagi-Mu. Aku adalah pengembara yang Engkau temani, maka segala puji bagi-Mu. Aku adalah orang hilang yang Engkau kembalikan, maka segala puji bagiv Mu. Aku adalah pejalan kaki yang Engkau beri tumpangan, maka segala puji bagi-Mu. Aku adalah orang sakit yang Engkau sembuhkan, maka segala puji bagi-Mu. Aku adalah pengemis yang Engkau beri, maka segala puji bagi-Mu. Dan aku adalah pemohon yang Engkau kabulkan permohonannya, maka segala puji bagi-Mu. Tuhanku, segala puji bagi-Mu atas semua pujianku kepada-Mu.” (Asyukru, Ibnu Abid Dunya, hal.166)

85

APAKAH ENGKAU MENANGISI UANG ITU?

         Fudlail bin Iyadl berkata, “Aku tidak pernah melihat orang yang lebih zuhud daripada seorang lelaki asal Khurasan. dia pernah duduk di dekatku di masjid kemudian bangkit untuk melaksanakan thawaf. Tapi tiba-tiba uang yang dibawanya dicuri orang. Lalu dia pun menangis tersedu-sedu. Lantas aku berkata, “Apakah engkau menangisi uang itu?” Dia menjawab, “Tidak. Akan tetapi aku membayangkan bahwa aku dan dia berada di hadapan Allah, sementara akalku tidak tega untuk membatalkan alasannya. Jadi, aku menangis karena kasihan kepadanya.” (Ihyak Ulumiddin, Al-Ghazali, 3/ 195-196)

96

MAHAGURU DALAM KELUHURAN BUDI

           Ibrahim bin Adham pernah keluar ke sebuah gurun pasir, lalu dia disambut oleh seorang prajurit. Prajurit itu lantas bertanya kepadanya, “Kamu seorang hamba?” “Ya,” jawab Ibrahim. “Di mana perkampungan?” tanyanya lagi. Lalu Ibrahim menunjuk ke arah kuburan. Si prajurit itu lantas berkata, “Aku menginginkan perkampungan! Itu kuburan,” jawab Ibrahim. Hal itu membuat si prajurit naik pitam dan memukul kepala Ibrahim dengan cemeti hingga terluka dan mengembalikannya ke desa. Dia disambut oleh teman-temannya, lalu mereka bertanya, “Bagaimana ceritanya?” Prajurit itu lantas menceritakan apa yang dikatakan oleh Ibrahim kepadanya. Lalu mereka berkata, “Ini Ibrahim bin Adhamll” Mendengar hal itu si prajurit itu pun turun dari kudanya, lalu mencium tangan dan kaki Ibrahim. Dia pun meminta maaf kepadanya.
             itu Ibrahim ditanya, “Mengapa engkau mengatakan kepadanya, ”Aku seorang hamba'?” Ibrahim menjawab, “Dia tidak bertanya kepadaku, *Hamba siapa kamu?” Dia hanya bertanya, 'Kamu seorang hamba?” Maka aku menjawab, ‘Ya’ Karena aku adalah hamba Allah. Lalu ketika dia memukul kepalaku, aku memohon kepada Allah agar dia mendapatkan Surga.” Lalu Ibrahim ditanya, “Bagaimana mungkin, sementara dia sudah berbuat zhalim kepadamu?” Ibrahim menjawab, “Aku tahu bahwa aku akan mendapatkan pahala atas apa yang aku terima darinya. Maka aku tidak ingin mendapatkan bagian yang baik dari dia, sementara dia mendapatkan bagian yang buruk dariku.” (Ihyak Ulumiddin, Al-Ghazali, 3/76)

104

KEDUA MATANYA BUTA KARENA MENANGIS

        Hasan _bin Arafah mengatakan, “Aku pernah melihat Yazid bin Harun di Wasith. Dia memiliki dua mata yang paling indah. Kemudian aku melihatnya hanya memiliki satu mata. Belakangan aku melihatnya telah kehilangan kedua matanya. Lalu aku bertanya, “Hai Ahu Khalid, apa yang terjadi pada kedua matamu yang indah?” Dia menjawab, “Dibawa pergi oleh tangisan menjelang fajar.” (Shifatus Shafwah, Ibnul Jauzi, 2/9)

105

AKHIRAT LEBIH DEKAT DARIPADA DUNIA

          Fudlail bin Abdul Wahhab mengatakan, Suatu hari aku mendengar saudaraku berkata, “Akhirat itu lebih dekat daripada dunia. Sebab, seseorang merasa begitu penting untuk mencari dunia, sehingga boleh jadi dia akan mengadakan perjalanan yang akan melelahkan badan dan menghabiskan dana. Kemudian boleh jadi dia tidak mendapatkan apa yang dia inginkan. Sementara orang yang mencari Akhirat paling jauh dituntut untuk memasang niat yang baik di manapun dia berada, tanpa perlu mengadakan perjalanan jauh, menghabiskan dana, atau melelahkan badan. Dia hanya perlu menanamkan niat untuk selalu taat kepada Allah, maka tiba-tiba dia telah mendapatkan apa yang ada di sisi Allah.” (Shifatus Shahnah, Ibnul Jauzi, 2/99)

109

AKU MENGELUHKAN DOSA DAN KESALAl-MNKU

Anas bin Malik mengatakan, “Kami pernah menjenguk Abdullah bin Mas'ud yang tengah terbaring sakit. Lalu kami bertanya, “Bagaimana kabarmu pagi ini, hai Abu Abdirrahman?” Dia menjawab, “Berkat karunia Allah pagi ini kita masih menjadi saudara.”
Kami bertanya, “Apa yang kau rasakan, hai Abu Abdirrahman?” Dia menjawab, “Aku merasakan bahwa hatiku tentram dengan iman.”
Kami bertanya, “Apa yang kau keluhkan, hai Abu Abdirrahman?” Dia menjawab, “Aku mengeluhkan dosa-dosa dan kesalahanku.”
Kami bertanya, “Apakah engkau tidak menginginkan sesuatu?” Dia menjawab, “Aku menginginkan ampunan dan ridha Allah.”
Kami bertanya, “Apakah kami perlu memanggil dokter?” Dia menjawab, “Sang Dokter telah membuatku sakit.” (Al-Muhtadlirin, lbnu Abid Dunya, hal.238-239; Tarikh Dimasyqa, Ibnu Asakir, 14/270)

115

PAHITNYA DUNIA ADALAH MANISNYA AKHIRAT

              Syuraih bin Abd Al-Hadlrami mengatakan, “Ketika mendekati ajalnya, Abu Malik Al-Asy'ari ..ga mengatakan kepada beberapa orang dari klan Asy'ari, “Hendaknya orang yang hadir menyampaikan kepada yang tidak hadir, bahwa aku mendengar Rasulullah Q' bersabda, “Manisnya dunia adalah pahitnya Akhirat, dan pahitnya dunia adalah manisnya Akhirat.” (HR. Ahmad, AI-Musnad, 5/ 342)

116

MASIH  MEMBACA AL QUR'AN SAMPAI MATI

           Hakam bin Utaibah mengatakan, “Ketika mendekati ajalnya, Abdurrahman bin Aswad menangis. Lalu dia ditanya, “Apa yang membuatmu menangis?” Dia menjawab, “Karena merasa sayang pada puasa dan shalat.” Lalu dia terus membaca Al-Qur'an sampai mati. Kemudian ada orang yang bermimpi bahwa dia menjadi ahli Surga.”
       Menurut Hakam, orang itu tidak jauh dari hai tersebut. Sebab, dia selalu beramal untuk dirinya dengan sungguh-sungguh untuk mengantisipasi hari kematiannya. (AI-Muhtadlirin, Ibnu Abid Dunya, hal.147; Tahdzibul Kamal, Al-Mizzi, 16/ 532-533)

117

MENANGIS JIHAD KETIKA MENINGGAL DUNlA

        Ghassan Al-Ghilabi mengatakan, “Ketika meninggal dunia Yunus bin Ubaid memandangi kedua kakinya lalu menangis. Kemudian dia ditanya, “Apa yang membuatmu menangis?” Dia menjawab, “Aku ingat bahwa kedua kakiku belum pernah berdebu di jalan Allah.” (As-Siyar, 6/291)

121

TIDAK BlSA TIDUR KARENA TAKUT NERAKA

        Ada seorang mantan budak bernama Shuhaib yang suka begadang di waktu malam dan menangis. Dia pun ditegur oleh mantan tuannya, “Kamu merusak dirimu.” Dia menjawab, “Sesungguhnya apabila Shuhaib mengingat Surga, maka kerinduannya menjadi panjang. Dan apabila mengingat Neraka, maka rasa kantuknya menjadi hilang.”
       Ketika malam tiba, Sofwan bin Mahraz melenguh seperti sapi. Lalu dia mengatakan, “Aku tidak bisa tidur karena takut Neraka.” (Ruhbanul Lail, Sayid Al-Afani, hal.88)

124

SEORANG GADIS MENEMPEL Dl KELAMBU KA’BAH SERAYA MEMANJATKAN DOA DAN MENANGlS SAMPAl MATI

         Ya'la bin Hakim menyatakan bahwa Sa'id bin Jubair pernah berkata, “Aku tidak melihat orang yang lebih perhatian dan lebih kuat komitmennya dalam menghOrmati Baitullah ini daripada penduduk Basrah. Karena aku pernah melihat seorang gadis pada suatu malam menempel di kelambu Ka'bah. Dia memanjatkan doa, menghiba dan menangis hingga meninggal dunia.” (As-Siyar, Adz-Dzahabi. 4/334)

126

WAHAI ORANG YANG TERPESONA OLEH KESEHATANNYA YANG PANJANG…

      Wahai orang yang terpesona oleh kesehatannya yang panjang, tidak pernahkah engkau melihat orang yang mati tanpa sakit sama sekali?
      Wahai orang yang terpesona oleh waktu luangnya yang panjang, tidak pernahkah engkau melihat orang yang diambil tanpa bekal sama sekali?
     Engkau berpikir tentang panjangnya umurmu, maka engkau akan lupa terhadap kenikmatan yang pernah kau rasakan. Apakah engkau terpesona oleh kesehatan? Apakah engkau bangga dengan keselamatanmu dari marabahaya dalam jangka waktu yang lama? Apakah engkau merasa aman dari kematian? Apakah engkau berani berhadapan dengan Malaikat maut? Sesungguhnya ketika Malaikat maut itu telah datang, maka dia tidak akan bisa dicegah oleh kekayaan seorang raja ataupun banyaknya pendukung. Tidak tahukah engkau bahwa saat kematian adalah saat yang sangat sulit, menyesakkan dan penuh penyesalan atas kelalaian yang pernah dnakukan?
         Lalu dia mengatakan, “Semoga Allah mengasihi orang yang beramal untuk menghadapi saat-saat kematian. Semoga Allah mengasihi orang yang beramal untuk menghadapi masa sesudah kematian. Semoga Allah mengasihi hamba yang memperhatikan dirinya sebelum datangnya kematian.” (Shifatus Shafwah, Ibnul Jauzi, 3/347; Qisharul Amal, Ibnu Abid Dunya, hal.623

138

MENGELUHKAN KESULITAN HlDUP

          Yunus_ bin Ubaid pernah didatangi seorang pria yang mengadukan kesulitan hidupnya. Yunus bertanya kepadanya, “Apakah engkau senang bila mata yang engkau pakai untuk melihat itu ditukar dengan 1000 Dirham?” “Tidak,” jawab pria itu. “Bila kedua tanganmu ditukar dengan 100.000 Dirham?” tanya Yunus. “Tidak,” jawab pria itu. “Kedua kakimu?” tanya Yunus lagi. “Tidak,” jawab pria itu lagi.
Yunus terus-menerus mengingatkan pria itu tentang berbagai karunia Allah yang ada pada dirinya. Lalu Yunus berkata, “Menurutku, engkau mempunyai ratusan ribu dirham, tetapi engkau mengeluh tidak punya apa-apa.” (Uddatus Shabirin, Ibnu Qayyim AlJauziyah, hal.125)

141

AKU KHAWATIR TEMAN-TEMANKU KEDlNGlNAN

            Ibrahim bin Adham pernah bepergian bersama tiga orang temannya, lalu mereka masuk masjid di tengah padang pasir. Malam itu udara sangat dingin sementara masjid itu tidak memiliki daun pintu. Ketika mereka tertidur, maka Ibrahim bangun dan berdiri di depan pintu sampai pagi. Dan ketika dia ditanya, “Mengapa engkau tidak tidur?” Dia menjawab, “Aku khawatir kalian kedinginan, maka aku pun berdiri di pintu.” (At-Tabshirah, Ibnul Jauzi, 2/301-302)

144

WAKTU BERANGKAT SUDAH TIBA, TETAP ENGKAU TIDAK PUNYA BERITA

       Ibnu Jauzi mengatakan, “Saudaraku, waktu berangkat sudah tiba, tetapi engkau tidak punya berita. Sampai kapan engkau diberi nasihat dan engkau tidak mengamalkannya? Engkau dibangunkan dan engkau tidak mau bangun? Engkau membuat penceramah kelelahan dan engkau tidak mau menerimanya?
Cukuplah penjelasannya bahwa engkau melihat teman-teman sebayamu telah pergi meninggalkanmu (mati).
 “Maka apakah ini sihir? Ataukah kamu tidak melihat?” (QS Ath-Thuur: 15)
Apakah engkau dibebani dengan kewajiban yang tidak mampu Engkau kerjakan? Apakah engkau dia' ' Jak bicara tentang sesuatu yang tidak engkau pahami? Mengapa engkau berpaling dari tempatmu berpulang? Mengapa engkau begitu lemah, padahal engkau sehat wal aflat? Mengapa engkau tidur, padahal engkau terjaga?
Betapa banyak orang yang berharap untuk bertemu bulan tertentu, tetapi tidak berhasil bertemu dengannya! Karena maut tiba-tiba datang menjemputnya.
Betapa banyak orang yang benar-benar berharap menunggu hari puasanya, tetapi tangan ajal tiba-tiba menghapus harapannya dengan kematian!
Betapa banyak orang yang merindukan perjumpaan dengan teman-teman sebayanya, tetapi kematian lebih dahulu melemparkannya ke dalam tanah! (At-Tabshirah, Ibnul J auzi, 2/ 821

146

AHLI MUSIBAH DAN MAKSIAT MEMANG PANTAS MENERIMA INI

        Muhammad bin Hurr bin Abdi Rabbihi Al-Qaisi, salah satu kerabat Rabah bin Amr Al-Qaisi, mengatakan, “Aku pernah menemuinya (Rabah bin Amr Al-Qaisi) di masjid. Saat itu dia sedang menangis. Aku juga pernah menemuinya di rumah, dan dia juga sedang menangis. Aku pun pernah menemuinya di gunung dan dia pun sedang menangis.
       Lalu pada suatu hari aku bertanya kepadanya, “Mengapa sepanjang hidupmu engkau selalu berduka?” Dia pun menangis seraya berkata, “Orang yang ahli musibah dan maksiat memang pantas menerima ini.”
       Dia juga pernah menangis seraya mengatakan" sampai berapa lama, wahai malam dan siang, kalian menurunkan ajalku sementara , aku lalai terhadap apa yang dikehendaki dariku” (Shzfatus Shafwah, Ibnul JauZi, 3/367-368) u. '

147-149

MATI KARENA AL.QUR'AN, NASIHAT DAN KESEDIHAN

      Kami pernah mengikuti majelis Shalih Al-Murri. Ketika dia sedang berbicara, tiba-tiba dia berkata kepada seorang pemuda yang ada di depannya, “Bacalah, anak muda!” Pemuda itu pun membaca firman Allah :
“Berilah mereka peringatan dengan hari yang dekat ketika hati sampai di kerongkongan dengan menahan kesedihan. Orang-orang yang zhalim tidak mempunyai teman setia seorangpun dan tidak mempunyai seorang pemberi syafaat yang bisa diterima syafaatnya. ” (QS. Gaaiir/Al-Mukmin: 18)
       Kemudian Shalih memotong bacaannya dan berkata, “Mana mungkin orang-orang yang zhalim mempunyai teman setia atau pemberi syafaat, sementara penuntutnya adalah Rabb semesta alam? Seandainya engkau melihat orang-orang zhalim dan ahli maksiat digiring dengan tangan teramai dan kaki terpasung menuju Neraka Jahim; tanpa alas kaki, bertelanjang bulat, wajahnya menghitam, matanya membiru, dan tubuhnya meleleh. Mereka semua berseru, “Celakalah kita! llaneurlah kita! Apa yang akan menimpa kita? Apa yang akan kita alami? Dibawa ke mana kita? Apa yang diinginkan dari kita?”
      Para Malaikat menggiring mereka dengan gada api. Ada yang diseret pada wajah dan ditarik pada pundaknya. Ada pula yang digiring ke sana dalam keadaan terbelenggu. Ada yang menangis darah setelah kehabisan air mata. Ada pula yang berteriak' histeris, hatinya terbang entah ke mana, dan mulutnya diam seribu bahasa.
      Demi Allah, seandainya engkau melihat peristiwa itu niscaya engkau akan menyaksikan pemandangan yang membuat matamu tak kuasa melihatnya, hatimu tak sanggup menahan haru, dan kakimu tak sanggup menahan beban tubuhmu, karena begitu seram dan amat ' memilukan.
      Dia pun menangis tersedu-sedu dan berteriak, “Oh buruk sekali masa depanku.” Dia menangis dan orang-orang pun menangis. Lalu ada seorang pemuda dari Azd berdiri dan bertanya, 5“Apakah semua itu terjadi pada Hari Kiamat, hai Abu Basyar?” Dia menjawab, “Ya, demi Allah, wahai anak saudaraku, dan itu tidak berlebihan. Aku mendengar informasi bahwa di dalam Neraka mereka berteriak hingga suara mereka habis, sehingga hanya tersisa seperti suara rintihan orang yang sakit keras.”
           Pemuda itu lantas berteriak, “Demi Allah, betapa lalainya aku terhadap diriku sendiri selama hidupku. Betapa menyesalnya diriku terhadap kealpaanku dalam melaksanakan ketaatan kepada-Mu, wahai Tuhanku. Betapa menyesalnya aku karena telah menyianjiakan umurku di dunia.” Lalu dia menangis, menghadap kiblat dan berkata,
“Ya Allah, hari ini aku menghadap ke hadirat-Mu dengan membawa taubat yang tidak bercampur riya' kepada selain Engkau. Ya Allah, terimalah aku sesuai dengan apa yang ada pada diriku. Ampunilah perbuatanku yang telah lalu. Anggaplah sedikit kesalahanku. Sayangilah aku dan orang yang hadir bersamaku. Anugerahilah kami dengan kedermawanan dan kemurahan hati-Mu, wahai Rabb yang Maha Penyayang di antara orang-orang yang penyayang. Kepada-Mu aku lemparkan beban dosa dari leherku. Kepada-Mu aku kembali dengan seluruh organ tubuhku, serta dengan hati yang tulus kepada-Mu. Maka, celakalah aku bila Engkau tidak berkenan menerimaku.”
    Pemuda itu tidak kuasa menahan diri hingga akhirnya jatuh pingsan. Dia digotong di antara orang banyak dalam kondisi pingsan. Selanjutnya, Shalih dan teman-temannya selalu menjenguknya selama beberapa hari, hingga kemudian pemuda itu meninggal dunia. Segala puji bagi Allah. Banyak sekali orang yang menghadiri pemakamannya; mereka menangisinya dan memanjatkan dua untuknya. Syaikh Shalih seringkali menyebutnya di dalam majelism a. Dia mengatakan, “Sungguh, dia mati karena Al-Qurlan. nasihat d3“ kesedihan.” (Masyahid An-Naas Indal Maul, Abdurrahman khulaif, hal.99)

158

SERUAN KUBUR SETIAP HARI

   Bilal bin Sa'ad pernah mengatakan, “Setiap hari kubur selalu berseru, “Akulah rumah kesepian, rumah belatung dan kesepian. Aku adalah salah Satu jurang Neraka atau taman Surga.”
Jika orang mukmin diletakkan di dalam liang lahatnya, maka bumi pun berbicara kepadanya dari bawahnya. Bumi mengatakan, “Demi Allah, dulu aku menyukaimu ketika engkau berjalan di atas punggungku, lalu bagaimana ketika engkau berada di dalam perutku? Bila engkau diserahkan kepadaku, maka engkau akan tahu apa yang akan aku perbuat.” Kemudian liang lahatnya itu menjadi luas sejauh  pandangan matanya.
        Sebaliknya, jika orang kafir dikuburkan, maka bumi akan berkata, “Demi Allah, dulu aku membeneimu ketika engkau berjalan di atas punggungku. Bila engkau diserahkan kepadaku, maka engkau akan tahu apa yang akan aku perbuat.” Kemudian bumi menghimpitnya hingga berantakan tulang belulangnya. (Syarhus Shudur, As-Suyuthi, hal.157)

167

BEGlNlLAH SEORANG HAMBA BERSYUKUR KEPADA TUHANNYA

           Ada seorang pria bertanya kepada Abu [lazim, “Bagaimana cara mensyukuri mata, hai Abu ilazim?” Abu Hazim menjawab, 'Jika engkau melihat sesuatu yang baik, maka engkau mengumumkannya. Dan jika engkau melihat sesuatu yang buruk, maka engkau menutupinya."
          “Lalu bagaimana cara mensyukuri telinga?” tanyanya. Abu Ilazim menjawab, “Jika engkau mendengar sesuatu yang baik, maka engkau menampungnya. Dan jika engkau mendengar sesuatu yang buruk, maka engkau menutupinya.”
“Bagaimana cara mensyukuri tangan?” tanya pria itu lagi. Abu Ilazim menjawab, “Jangan menggunakannya untuk mengambil sesuatu yang bukan milikmu, dan jangan menghalangi hak Allah yang ada padanya.”
““Bagaimana cara mensyukuri'perut?” tanya pria itu selanjutnya. Abu ilazim menjawab, “Menjadikan bagian bawahnya sebagai tempat makanan dan bagian atasnya sebagai tempat ilmu.”
“ Lalu bagaimana cara mensyukuri kaki?” tanya pria itu kembali. Abu Hazim menjawab, “Jika engkau melihat orang hidup yang engkau merasa ingin seperti dia, maka engkau menggunakannya (kaki) untuk beramal seperti dia. Jika engkau melihat orang mati yang engkau benci, maka engkau menahannya (kaki) agar tidak beramal seperti dia. Begitulah engkau bersyukur kepada Allah. Adapun orang yang bersyukur dengan lisannya tapi tidak bersyukur dengan anggota tubuhnya, maka dia seperti orang yang mempunyai pakaian, lalu dia memegang ujungnya dan tidak memakainya. Akibatnya, pakaian itu tidak memberikan manfaat apa-apa kepadanya; tidak bisa melindunginya dari udara yang panas, dingin, salju maupun hujan.” (Uddatus Shobirin, Ibnu Qayyim AleJauziyah, ha1.128-129)

172

MENGHARAP AMPUNAN ALLAH KARENA SELALU MENCARI RlDHA-NYA

        Ibnu Khalkan berkata, “Hasan Al-Bashri pernah ditanya tentang Amr bin Ubaid, lalu dia mengatakan, “Sungguh, engkau menanyakan tentang orang yang seolah-olah dibina oleh para Malaikat dan dididik oleh para Nabi. Jika dia mengerjakan sesuatu maka dia akan memperhatikannya dengan sungguh-sungguh. Jika dia memperhatikan sesuatu, maka dia akan mengerjakannya dengan sungguh-sungguh. Jika dia memerintahkan sesuatu, maka dia adalah orang yang paling konsisten dalam menjalankannya. Jika dia melarang sesuatu maka dia adalah orang yang paling konsisten dalam menghindarinya. Aku tidak pernah melihat orang yang lahirnya lebih sesuai dengan batinnya 
dan batinnya lebih sesuai dengan lahirnya daripada dia.”
          Ibnu Khalkan berkata, “Ketika menjelang wafat, dia mengatakan kepada sahabatnya, “Kematian telah datang kepadaku, padahal aku belum menyiapkan bekal untuknya.” Kemudian dia berkata lagi, “Ya Allah, sesungguhnya setiap kali aku dihadapkan pada dua pilihan, yang satu Engkau ridhai dan yang lain sesuai dengan keinginanku. Maka aku selalu memilih yang, engkau Iidhai dan mengalahkan keinginanku. Maka ampunilah aku.” (“'qfayaml A’yan, Ibnu Khalkan, 3/362)

177

TIDAK ADA WAKTU LUANG BAGlNYA

        Itulah Imam Sulaim Ar-Razi, Syaikh madzhab Syafi'i pada izamannya. Dia selalu memperhitungkan waktu, sehingga tidak ada sedikit pun waktu yang berlalu tanpa faedah; adakalanya ia menulis, mengajar atau membaca.
          Ibnu Asakir mengatakan, “Abul Faraj Al-Isiirayini pernah bercerita tentang dia (Sulaim Ar-Razi), bahwa suatu hari dia pernah singgah di rumahnya dan pulang. Lalu dia mengatakan, “Aku membaca satu juz di jalan.” Suatu ketika ujung penanya pecah ketika dia sedang menulis. Lalu sambil memperbaiki penanya, dia menggerak-gerakkan bibirnya. Sehingga aku pun tahu bahwa dia membaca sambil memperbaiki pena, supaya tidak ada sedikit pun masa atau waktu yang luang baginya.” (Qimatul Waqli, Ibnu Abid Dunya, hal.50*51)

184

AKU SUDAH PERGl DARI DUNiA

Ibnu Khuzaimah dan lain-lain meriwayatkan bahwa Al-Muzani berkata,
“Aku pernah menemui Imam Syafi'i ketika dia sedang sakit berakhir pada kematiannya. Aku bertanya, “Hai Abu Abdillah, bagaimana keadaanmu pagi ini?” Dia mengangkat kepalanya dan menjawab, “Pagi ini aku sudah pergi dari dunia, meninggalkan teman-temanku, berjumpa dengan amal perbuatanku yang buruk dan menghadap ke hadirat Allah. Aku tidak tahu apakah rohku kembali ke Surga, sehingga aku bisa memberikan ucapan selamat kepadanya. Ataukah pergi ke Neraka, sehingga aku perlu berbeia sungkawa kepadanya?”
Kemudian dia menangis dan melantunkan syair:
Tatkala Hatiku Mengeras dan
Dosa-dosaku menggunung dan menindihku
tetapi ketika kubadingkan dengan ampunamnu ,
Ternyata  ampunnnmu jauh lebih besar.
Engkau masih tetap mengampuni dosa dasa
Engkau masih tetap dermawan dan murah hati.
Andai tanpa-Mu ahli ibadah takkan tersesat
oleh tipu daya dan bujuk rayu iblis.
Bagaimana tidak? Adam kekasih-Mu pun tergoda tipu dayanya.
Aku anakukan dosa dan aku tahu kadarnya Tapi kuyakin Allah berkenan mengampuninya.
(Shifatus Shofwah, lbnul Jauzi, 2/146 dan Tawali At-Ta'sis, hal.:Bg).

186

MENANGIS  DARI AWAL MALAM SAMPAl PAGl HARI

      imam Ahmad mengatakan, “Aku pernah melihat sejumlah orang shalih. Aku melihat Abdullah bin Idris dengan jubah bulu yang lusuh selama bertahun-tahun. Aku melihat Abu Daud Al-Khudlori dengan jubah yang robek dan kapasnya keluar darinya. Ketika dia sedang shalat, tubuhnya bergoyang karena menahan lapar. Aku juga melihat Ayyub An-Najjar ketika dia sudah meninggalkan semua yang dia miliki. Di dalam masjid juga ada seorang pemuda tanggung yang dikenal dengan Al-Atlfl; dia bangun mulai awal malam sampai pagi, hanya menangis.” (Al-Mudhisy, Ibnul J auzi, hal.312)


191

AKU lNGlN TlDUR, TETAPl

       Ruh bin Salamah Al-Warraq pernah berkata kepada Ufairahf (wanita yang dikenal sebagai ahli ibadah), “Aku mendengar kabar bahwa engkau tidak tidur di malam hari." Lalu wanita itu menangis, seraya berkata, “Terkadang aku ingin tidur, tetapi aku tidak bisa. Mana mungkin aku bisa tidur jika selalu dijaga oleh dua orang yang tidak tidur sepanjang malam dan siang?!"
“Demi Allah,” kata Ruh bin Salamah, “dia membuatku menangis dan aku pun berkata di dalam hati, “Aku melihatku dalam satu hal dan aku melihatnya dalam hal yang lain.” (Shifatus Shafwah, Ibnul Jauzi, 4/33)

194

KESABARAN YANG LUAR BlASA

         Ashnaf bin Qais berkata, “Aku tidak belajar kesabaran selain dari Qais bin Ashim Al-Man'ari. Ketika itu keponakannya dibunuh, lalu pembunuhnya ditangkap dan digiring ke hadapannya. Dia berkata, “Kalian telah membuat pemuda itu ketakutan!” Dia menghampiri pemuda itu seraya berkata, “Jelek sekali perbuatanmu! Engkau telah mengurangi jumlahmu, melemahkan kekuatanmu, menyenangkan musuhmu, berbuat buruk kepada kaummu, berbuat dosa kepada Tuhanmu, memutus tali persaudaraanmu, dan menembak dirimu sendiri dengan anak panahmu. Lepaskan dia, dan bawalah dial-nya kepada ibu korban, karena dia sebatang kara.”
      Kemudian si pembunuh itu pun pergi, sedangkan Qais tidak beranjak dari tempat duduknya. Raut mukanya tidak berubah, (Wafayatul A’yan, Ibnu Khalkan, 2/188; Al-Bidayah wan-Nihayah, Ibnu Katsir, 8/ 327)

199

ENGKAU MENYlA-NYlAKAN TITIPAN ALLAH KEPADAMU

         Bilal bin Sa'ad berkata, “Wahai hamba Allah yang Maha Penyayang, apa yang dititipkan Allah kepadamu engkau sia-siakan. Sedangkan apa yang dijamin oleh Allah akan diberikan kepadamu justru engkau cari. Bukan begitu Allah menugaskan hamba-hambaNya yang beriman; sangat eerdas dalam mencari dunia, tapi idiot dalam memahami tujuan peneiptaanmu. Bila engkau berharap kepada Allah dengan ketaatan yang engkau kerjakan, maka takutlah pada hukuman Allah akibat kemaksiatan yang engkau perbuat.” (AzZuhd Al-Kabir, Al-Baihaqi, 88)



206

KETETAPAN ALLAH PADA DIRIKU LEBIH BAIK DARI PADA PENGLIHATAN KU

         Ketika Sa'ad bin Abi Waqqash “gga, datang ke Makkah dalam kondisi sudah buta, maka orang-orang pun bergegas menemuinya. Setiap orang memintanya agar berdoa untuk ini dan itu, karena doanya mustajab. Lalu Abdullah bin Saib berkata, “Kemudian aku pun mendatanginya (ketika itu aku masih remaja). Aku memperkenalkan diri kepadanya, dan ternyata dia sudah mengenalku. Dia bertanya, “Engkau qori'-nya orang Makkah?” “Ya, jawabku.
        Abdullah pun bercerita hingga akhirnya mengatakan, “Lalu aku bertanya kepadanya, “Paman, engkau berdoa untuk orang banyak. Seandainya engkau berdoa untuk dirimu sendiri agar Allah mengembalikan penglihatanmu'.” Dia tersenyum dan berkata, “Anakku, ketetapan Allah pada diriku lebih baik daripada pengihatanku.” (I thafus Sedah, Az-Zubaidi, 12/ 578)

210

TERLENA OLEH DUNlA

        Ibnul Jauzi mengatakan, “Barangsiapa berpikir tentang akhir perjalanan dunia, maka dia akan waspada. Barangsiapa meyakini bahwa jalan ini sangat panjang, maka dia akan bersiap-siap untuk menempuh perjalanan panjang. Aneh sekali ulahmu, wahai orang yang meyakini sesuatu kemudian melupakannya dan orang yang meyakini adanya bahaya yang bakal datang kemudian menutupinya. Allah SWT berfirman: “Engkau takut kepada manusia, padahal Allah lebih berhak engkau takuti. ” (QS. Al-Ahzabzg7)
          “Nafsumu didominasi oleh apa yang engkau sangka,,dan bukan pada apa yang engkau yakini. Yang lebih mengherankan engkau merasa gembira terhadap keterlenaanmu dan engkau melupakan kelupaanmu terhadap apa yang disembunyikan untukmu. Engkau terlena oleh kesehatanmu dan melupakan sakit yang semakin mendekat. Engkau bersuka cita dengan kebugaranmu dan lalai akan penderitaan yang kian mendekat.” (Shaidul Khamir, Ibnul Jauzif hal.8)

211

SURGA ITU MAHAL HARGANYA

         Dulu ada seorang wanita mantan budak yang dimerdekakan oleh Ibrahim An-Nakha'i. Wanita itu sengaja mencari hari yang sangat panas untuk berpuasa. Kemudian ada orang yang bertanya kepadanya, “Engkau sengaja mencari hari-hari yang paling panas untuk berpuasa?” Wanita itu menjawab, “Apabila harga barang itu murah, maka semua orang bisa membelinya.” (Shifatus Shafwah, Ibnul Jauzi, 4/46)

214

MENGHORMATI HADIS RASULULLAH

         Adalah Imam Malik, apabila hendak menyampaikan Hadis. maka dia mengambil air wudhu lalu duduk di tempat duduknya menyisir jenggotnya, dan memantapkan duduknya dengan tenang dan berwibawa. Barulah kemudian ia menyampaikan Hadis.
          Ketika ditanya tentang hal itu, dia mengatakan, “Aku ingin menghormati Hadis Rasulullah its. Aku tidak mau berbicara tentang beliau, kecuali dalam kondisi yang benar-benar suci.”
         Konon Imam Malik tidak mau menyampaikan Hadis sewaktu di jalan, berdiri atau dalam keadaan yang tergesa-gesa. Dalam hal ini dia mengatakan, “Aku ingin berusaha memahami Hadis yang aku riwayatkan dari Rasulullah 3523.” Dia juga tidak mau naik kendaraan di kota Madinah, kendati dia sudah lemah dan tua. Dia mengatakan, “Aku tidak mau naik kendaraan di dalam kota tempat jasad Rasulullah as dikubur." (Wafayatul A'yan, Ibnu Khalkan, 3/362)

220

SHALAT SAMPAI BENGKAK KAKINYA

     Istri Masruq mengatakan, “Masruq suka mengerjakan shalat sarnpai bengkak kedua kakinya. Terkadang aku duduk menan ' kctlka melihat apa yang dia perbuat terhadap dirinya.” (Siyar A'Igls An-Nubala’, Adz-Dzahabi, 4/63-64)

226

AKU KHAWATIR lA AKAN MERUSAK HATI DAN AMALKU.

        Hasan .Al-Bashri mengatakan, “Demi Allah, aku pernah berjumpa dengan orang-orang yang andaikata salah satu dari mereka sangat membutuhkan'dan di sampingnya ada harta yang halal, niscaya dia tidak akan mendatanginya lalu mengambil sebagian darinya." Lalu ketika ada yang bertanya kepadanya, “Semoga Allah menyayangimu. Tidakkah engkau mendatangi (harta) ini untuk membantu mengatasi keadaanmu?” Maka dia akan menjawab, “Tidak. Demi Allah, aku benar-benar khawatir bahwa ia akan merusak hati dan amalku.” (Az-Zuhd Al-Kabir, Al-Baihaqi, 95)

229

MENlNGGALKAN SESUATU YANG MEMALINGKAN DIRI MU DARI ALLAH

         Abu Sulaiman Ad-Darini mengatakan, “Ketika kami berada di Irak, kami pernah berbeda pendapat tentang zuhud. Ada yang mengatakan, bahwa zuhud adalah meninggalkan pertemuan dengan manusia. Ada pula yang berpendapat zuhud adalah meninggalkan syahwat. Ada yang berpandangan lain, bahwa zuhud adalah meninggalkan keyang. Ucapan mereka satu sama lapin saling berdekatan. Sedangkan aku berpendapat bahwa zuhud adalah meninggalkan sesuatu yang memalingkan dirimu dari Allah.” (Hilyatul Auliya', 9/ 258)

230

SlAPAKAH YANG MEMLIKl lLMU?

          Diriwayatkan bahwa Abdullah bin Salam pernah bertemu dengan Ka'bul Ahbar di sisi Umar. Dia bertanya, “Wahai Ka’ab, siapakah yang memiliki ilmu?” Dia menjawab, “Mereka yang mengamalkannya.” “Lalu, apakah yang bisa menghilangkan ilmu dari hati para ulama setelah mereka menghafalkan dan memahaminya?” tanya Abdullah. Dia menjawab, “Ilmu bisa hilang karena ketamakan, kebusukan jiwa dan pamrih kepada manusia.” “Engkau benar,” sahut Abdullah. (Jami ”ul Ilmi wa Fadluhu, Ibnu Abdil Bar, 2/ 8)

236-242

AIR MATA BERCUCURAN Di SAAT BERPISAH DENGAN RASULULLAH YANG BENAR DAN DIBENARKAN

      Awan gelap memayungi kaum muslimin ketika berpisah dengan orang terkasih yang dicintai, gambaran kesedihan, hati-hati merana, bersedih, isakan beberapa orang terdengar di masjid Rasulullah as… tangisan para wanita terdengar di sana-sini.
Perpisahan dengan Muhammad bin Abdullah, penutup para Nabi dan Rasul. Inilah saat-saat sebelum perpisahan...
      Ketika para sahabat sedang menunaikan shalat di masjid di belakang Abu Bakar, tiba-tiba kain penutup kamar Aisyah tai? terbuka, Rasulullah ia muncul di balik kain itu, beliau melihat mereka , yang berbaris di dalam shalat, beliau tersenyum, lalu Abu Bakar Laa mundur untuk berdiri di shaf karena dia mengira bahwa Rasulullah ia akan keluar untuk shalat, kaum muslimin hampir tergoda di dalam shalat mereka karena kebahagiaan mereka kepada Rasulullah, tetapi beliau mengisyaratkan dengan tangannya agar mereka meneruskan shalat, kemudian beliau masuk kamar dan menutup kain,
Orang-orang telah menyelesaikan shalatnya, mereka mengira Nabi saw: telah membaik.

Padahal itu merupakan pandangan perpisahan Nabi saw kepada sahabat-sahabatnya.

Nabi kembali berbaring di pangkuan Aisyah, beliau menyandarkan kepalanya ke dada Aisyah, sakaratul maut telah menimpanya.
       Aisyah ma berkata, “Di hadapan beliau terdapat ember keeil berisi air, beliau memasukkan tangannya dan membasuh wajahnya seraya berkata, ‘La ilaaha illallah, kematian mempunyai sekarat'."
Fatimah : berkata ketika melihat itu, “Betapa berat penderitaanmu, wahai ayahku.”
Beliau lalu berkata kepadanya, “Setelah ini ayahmu tidak akan menanggung penderitaan lagi.”
Rasulullah terus mengambil air dari ember kecil dan membasuh wajahnya seraya berkata, “La ilaaha illallah, kematian mempunyai sekarat.” Sehingga tangannya mulai terkulai, lalu beliau mulai berkata, “Di Rafiqil a'la...di Rajiqil a'la...” lalu beliau wafat. Maka tangan beliau lunglai. Alangkah beratnya musibah ini... alangkah sulitnya penderitaan ini... alangkah besarnya kesedihan ini... Benarkah Rasulullah % telah wafat? Benarkah wahyu terputus? Saat hati-hati merana... mata terbelalak, kesedihan menyeruak, dan air mata bercucuran....
Marilah kita melihat keadaan kaum muslimin dalam kesempatan ini.
        Abu Bakar dia masuk masjid, dia tidak mengajak seorang pun berbicara... dia tidak memperdulikan siapa pun… dengan bergegas dia melangkah ke kamar Aisyah dia masuk, dia melihat Rasulullah tia yang telah tertutup dengan kain bergaris. Abu Bakar & membuka wajahnya yang mulia, kemudian menciumnya. Air matanya menetes pada saat perpisahan... air mata yang sebenarnya, lalu dia berkata, “Saya mengorbankan untukmu bapak dan ibuku, Allah mengumpulkan dua untukmu, adapun kematian yang ' telah ditakdirkan untukmu maka engkau telah mengalaminya.” Lalu dia keluar.
      Kita beralih ke masjid melihat Umar g, dia marah... panik... dan berbicara, apa yang engkau bicarakan ya Al-Faruq?
      Umar berbicara kepada mereka bahwa Rasulullah aula tidak mati, tetapi beliau pergi kepada Tuhannya seperti perginya Musa bin Imran... dia tea-3 belum mati sampai dia menghabisi orang-orang munafik....
       Wahai umar tetaplah di tempatmu… ya Umar demi Allah kamu sangat sedih... berita itu benar-benar telah mempengaruhi dirimu.... Saudaraku, apakah kamu menyalahkan Umar? Saudariku, apakah kamu menyalahkannya? Saya tidak menyalahkannya, karena hal itu terdorong oleh rasa cinta... cinta kepada yang benar dan dibenarkan, yang telah menyampaikan risalah dan memberi nasihat kepada umat.
         Ghirah Umar adalah memberangus orang-orang munafik... orang-orang munafik yang berjiwa hitam, yang berkepribadian penuh dengan lumpur. Umar ingin hal itu terwujud melalui tangan penutup para Nabi dan Rasul.... Umar terus berbicara tentang itu.
         Kita beralih ke salah satu sudut masjid... lihatlah ke sudut masjid... siapakah di sana? Sebagian sahabat aja,… mereka sedang apa? Sepertinya mereka menangis... ya benar, mereka menangis. Alangkah sedihnya kalian para sahabat... alangkah terpukulnya kalian saudara'saudaraku!
         Abu Bakar  datang, sepertinya dia ingin mengatakan sesuatu. Dengarkanlah… sekarang dia berkata setelah alhamdulillah dan pujian kepada-Nya, “Amma ba’du, wahai manusia, barangsiapa di antara kalian yang menyembah Muhammad zag, maka dia telah mati... dan barangsiapa di antara kalian yang menyembah Allah, maka Allah hidup dan tidak mati... firman Allah :
“Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang Rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang Rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang ( murtad)? ' (QS. Ali-Imran: 144).
         Seolah-olah orang-orang tidak mengetahui bahwa Allah telah menurunkan ayat ini, sehingga Abu Bakar ata membacanya kepada mereka, lalu orang-arang mengambilnya dari Abu Bakar, tidak seorang pun yang menyimaknya kecuali mengulangnya. Umar ca.. berkata, “Demi Allah, begitu saya mendengar Abu Bakar membacanya saya langsung luruh, kedua kakiku tidak mampu menyanggah tubuhku, saya luruh ke tanah ketika dia membacanya, dan saya mengetahui bahwa Nabi ata telah wafat.” Kebanyakan sahabat tertunduk lesuh, mereka menangis....
Kenyataan... kenyataan yang tidak bisa membendung keluarnya air mata....
       Benar-benar...sungguh hari yang menyedihkan... memilukan... lihatlah kota Madinah pada hari itu… ia menjadi kota air mata... air mata karena berpisah dengan pemilik akhlak yang agung… air mata atas habisnya kesempatan melihat Rasulullah ada di dunia. Dunia bermuram dengan wajah mereka, kesedihan yang mendalam... sebagian mata belum merasakan tidur. Dengarkanlah Ummu Salamah yang berkata, “Ketika kami berkumpul menangis tidak tidur sementara Rasulullah ada di rumah kami dan kami terhibur dengan melihatnya di atas tempat tidur, tiba-tiba kami mendengar suara yang terulang-ulang di waktu sahur, maka kami berteriak dan penghuni masjid juga berteriak.”
         Maka Madinah tergoncang dengan suara satu, Bilal ia, mengumandangkan shalat subuh, ketika dia menyebut nama Nabi aa, Bilal pun menangis tersedu-sedu, semakin menambah kami sedih, lalu orang-orang ingin masuk ke kamar Rasulullah Saw. tetapi merekatidak diizinkan. Benar-benar musxbah. Kita tidak tertimpa musibah getelah itu kecuali musibah itu sangatlah ringan jika kita mengingat musibah wafatnya Rasulullah.
       Inilah Fatimah  putri Rasulullah & sangat bersedih, dia berkata, “Wahai bapakku, telah memenuhi panggilan Tuhannya, wahai bapakku, di Surga tempatnya, wahai bapakku, kepada Jibril kita menyampaikan berita kematiannya." Ketika Rasulullah Saw di kubur, Fatimah berkata, “Ya Anas, apakah kalian tega menimbunkan tanah di atas jasad Rasulullah ia.”
         Tangisan tidak hanya di Madinah saja... begitu pula di Makkah... tiba-tiba mereka mendengar berita wafat, hati-hati menjadi sedih, Gubernur Makkah Suhail bin Amru & melakukan apa yang dilakukan oleh Abu Bakar Ja.... Musibah yang menyelimuti seluruh wilayah Islam.... Musibah besar, bahkan terbesar.... Rasulullah Pg bagi mereka adalah saudara... teman... bapak... pemimpin dan Nabi.... Mereka memperebutkan sisa wudhunya untuk tabarruk (mengharap berkah), mereka melaksanakan apa yang diperintahkannya, menjauhi apa yang dilarangnya, mata mereka senantiasa bercahaya melihatnya &, tanpa ada rasa bosan. Setiap dia & mengingatkan mereka terhadap mereka, maka mereka menangis. Mereka tidak pernah bosan duduk dengannya... menerima !ladisnya dengan dada yang lapang... menjaga apa yang disampaikan kepada mereka. Saya bersaksi bahwa engkau telah menyampaikan risalah, memberi nasihat kepada umat dan meninggalkan kami diatas jalan yang putih, malamnya seperti siangnya, tidak melenceng darinya kecuali binasa.
Kita melihat ya akhi, ya ukhti amal kita... dengan ilmu kita, kita bisa mengukur kecintaan kita kepada Rasul kita.
Jika orang yang mencintai mengikuti orang yang dicintai… maka lihatlah bagaimana urusannya jika perintah mencintai itu datang dari Allah yang Rahman dan Rahim.
        Angkatlah tanganmu bersamaku, kita berucap doa, “Ya Allah Engkaulah harapan kami, tidak ada harapan bagi kami selain Engkau, ya Allah kami belum melihat Rasulullah atas di dunia, maka izinkanlah kami melihatnya di hari Kiamat.”
         Sekarang saya merasakan ada tangisan dari dalam yang muncul dari bayangan keadaan saat itu, ya air mataku menetes karena sedih. Demi Allah seolah-olah musibah ada pada saat ini. Cukuplah wahai tanganku engkau menulis, beri kesempatan kepada kedua mataku untuk meneteskan air mata. Saya tidak menambah akan tetapi di sinilah air mata itu menetes.

258

HATIKU HAMPIR-HAMPlR TERBANG

         Betapa agungnya ayat-ayat Allah 933, betapa agungnya membacanya ketika terlepas dari hati yang meresapi maknanmknanya, rasa takut muncul ketika membaca ayat adzab, rasa harap menyeruak ketika Surga dan kenikmatannya disebut. Sesungguhnya ikl-Qur'an memiliki tempat khusus di hati generasi awal, berapa banyak orang kafir yang masuk Islam karena menyimak tilawah AlQur'an yang bijak. Biarkanlah Jubair bin Muth'im  menceritakan kepada kita.
         Dia berkata, “Saya datang ke Madinah untuk berunding dengan Rasulullah saat tentang tawanan perang Badar, saya mendatanginya ketika dia membaca surat At-Thur pada shalat maghrib, ketika dia ia:, membaca:
“Sesungguhnya adzab Tuhanmu pasti terjadi, tidak seorang pun yang dapat menolaknya.” (QS. At-Thur: 7-8), seolah-olah hatiku terpecah, saya lalu masuk Islam karena takut turunnya adzab, ketika dia membaca:
“Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatu pun ataukah mereka yang menciptakan diri mereka sendiri, ataukah mereka telah menciptakan bumi dan langit itu? Sebenarnya mereka tidak meyakini apa yang mereka katakan itu.” (QS. At-Thur: 35-36) maka hatiku hampir terbang.”
        Jubair. bin Muth'im datang bukan untuk masuk Islam, datang bukan untuk mendengar Al-Qur'an, dia datang untuk merundingkan tawanan perang Badar dengan Rasulullah &, Allah 5% berkehendak kedatangannya tepat di saat Rasulullah %; membaca Al-Qur'an di dalam shalat. Ibadah shalat yang oleh Rasulullah &” katakan kepada Bilal, “Ya Bilal istirahatkan kami dengannya.” Benar, ia untuk mengistirahatkan jiwa, badan dan pikiran. Adalah Rasulullah £2 membaca surat At-Thur, kesempatan yang mulia. Demi Allah yang tidak ada Rabb yang haq selain Dia, saya sangat merindukan mendengar bacaan ayat-ayat itu dari Rasulullah 5%, saya mengidam-idamkan berada di belakangnya pada saat itu. Tentu pembaca juga demikian?
         Pada saat itu hembusan iman mengalir ke hati Jubair bin Muth'im ia», lalu ruh dan jasadnya berpindah kepada ayat-ayat itu, lalu dia merasakan hatinya terbelah karena kuatnya pengaruh ayat' ayat terhadap pendengaran dan hatinya, kemudian dia berpindah secara langsung dari gambaran akal ke alam nyata, dalam beberapa detik dia berpindah dari kesyirikan kepada iman. Barangsiapa mengetahui ayat-ayat Allah tabaraka wa taala dengan sebenarnya, niscaya dia mengetahui hakekat khusu'.

" * a Allah jadi (anlah Al-Qur'an sebagai penenteram hati kami,
cahaya di dada kami, pelenyap duka dan kesedihanku. Amin.
Yahya bin Muadz berkata:
“Barangsiapa makan sampai kenyang maka ia
ditimpa tiga hal; .
 penutup di atas hatinya .
 kantuk di matanya
Dan rasa malas di tubuhnya.”

Ahmad bin Hambal ditanya, “Kapan seorang  hamba merasakan mkmat zsnrahat?» Im Dia menjawab, “Pada saat injakan kaki yang pertama kali di Surga.”

Siapa pun yang ingin meraih suatu iujuan maka dia harus berusaha dengan sungguh-sungguh umuk mewujudkan tujuannya itu. Bagaimana iika iuiuan itu adaiah ridha Allah tabaraka wa wala? 'Yuiuau iermuiia. Adakah iuiuan iain seiain itu? Ya Aiiah, tujuanku adaiah mencari ridha-Mu, maka berikan kekuatan kepadaku untuk mewuiudkannya.






Kisah Cinta Kepada Allah

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh... Hai sahabat,❤❤ MY RESUME  Iman terkadang naik turun, salah satu untuk memperahankan keisyiq...