Iman terkadang naik turun, salah satu untuk memperahankan keisyiqamahan kita adalah banyak membaca kisah kisah cinta kepada allah.
saya bukanlah orang yang mengetahui segalanya tentang cinta, hanya saja ada beberapa buku mengenai itu yang saya baca, dan saya buat ringkasanya, , mungkin ini bisa bermanfaat untuk para pembaca budiman, perlu diketahui disini saya tidak bermaksud mencopy tulisan orang lain, saya hanya ingin menshare ilmu yang sudah saya dapat dari buku yang saya baca, dan apa salahnya berbagi ilmu.
Judul Buku : Buku Kisah Cinta
Kepada Allah
Karangan : Syaikh Usamah Nu'aim Mustofa
Syaikh Najib Khalid Al-Amir
50.
ANDAI KATA
KAMU MEN GETAHUI APA YANG AKU KETAHUI, NISCAYA KAMU AKAN JARANG TERTAWA DAN LEBIH
SERiNG MENANGIS
Abdullah bin Amr bin Ash mengatakan,
“Andaikata kamu mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kamu jarang tertawa
dan lebih sering menangis. Dan andaikata kamu benar-benar mengetahui, niscaya
kamu akan berteriak sampai habis suaramu, dan kamu akan sujud sampai patah
tulang punggungmu.” (Ililyatul Auliya”, Abu Nu'aim, 3/ 146)
51
ANDAI KATA
KAMU MENGETAHUI APA YANG AKU KETAHUI, NISCAYA KAMU AKAN JARANG TERTAWA DAN
LEBIH SERING MENANGIS
Abdullah bin Amr bin Ash mengatakan, “Andaikata kamu mengetahui apa yang
aku ketahui, niscaya kamu jarang tertawa dan lebih sering menangis. Dan
andaikata kamu benar-benar mengetahui, niscaya kamu akan berteriak sampai habis
suaramu, dan kamu akan sujud sampai patah tulang punggungmu.” (I-Iilyatul
Auliya', Abu Nu’aim, 3/146)
55
DEMI ALLAH,
AKU TIDAK TAHU APA YANG AKAN TERJADI PADAKU
Jarir bin Hazim mengatakan bahwa ia pernah mendengar Hasan bin Ali
berkata, “Aku berjumpa dengan orang-orang yang ditawari kekayaan duniawi,
tetapi mereka meninggalkannya seraya berujar, “Demi Allah, aku tidak tahu apa
yang akan terjadi padaku , jika kekayaan ini benar-benar di tanganku.”
(Az-Zuhd, Ibnu Mubarok, hal.175)
54
TANDA-TANDA
KEYAKlNAN
Ibnu Qayyim
Al-Jauziyah mengatakan bahwa ada tiga landa tanda keyakinan yaitu:
1. Melihat (ingat) Allah di dalam
segala hal.
2. Kembali kepada Allah dalam semua
urusan.
3. Meminta pertolongan kepada Allah
dalam berbagai keadaan. (Madarijus Salz'kin, Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, 2/398)
62
SURGA ADALAH
KESlBUKANKU DAN TEMPAT KEABADlANKU
Salah seorang mantan budak Abu
Raihanah mengatakan bahwa ketika Abu Raihanah kembali dari medan perang, dia
pulang ke rumah keluarganya dan menyantap makan malamnya. Kemudian dia
mengambil air wudhu, pergi ke tempat shalatnya. Lalu dia membaca satu surat dan
dilanjutkan dengan surat berikutnya. Dia terusmenerus seperti itu. Setiap kali
selesai membaca satu surat, dia mulai dengan surat yang baru hingga mu'adzin
mengumandangkan adzan Subuh. Ketika itu dia pun merapikan pakaiannya, lalu
tiba-tiba istrinya mendatanginya dan berkata, “Hai Abu Raihanah, engkau telah
pergi berperang dan kelelahan di medan perangmu, lalu engkau datang kepadaku,
tetapi aku sama sekali tidak mendapatkan bagian sedikitpun darimu.”
Lalu Abu Raihanah menjawab, “Oh ya,
demi Allah, engkau sama sekali tidak terlintas di dalam benakku. Andaikata aku
”IC mengingatmu, niscaya engkau memiliki hak atas diriku. Lalu apa yang
menyibukkanmu, hai Abu Raihanah?” tanya istrinya. Dia menjawab, “Hatiku masih
terpesona oleh pemaparan yang disampaikan oleh Allah tentang isi Surga-Nya,
seperti pakaian, pasangan hidup, kenikmatan dan kelezatannya, sampai aku
mendengar suara adzan.” (AI-Khusyuk Fi Ash-Shalat, Ibnu Rajah, hal. 30)
67
HAl MANUSlA,
AKU BENAR-BENAR MENASEHATIMU
Abu Dzar Al-Ghifari & berkata, “Hai manusia, aku benarbenar
menasihatimu. Aku benar-benar sayang kepadamu. Shalatlah di kegelapan malam
untuk mengantisipasi seramnya kubur. Puasalah di siang hari untuk menghadapi
panasnya Hari Berbangkit, dan bersedekahlah untuk menghindari hari yang sulit.
Hai manusia, aku benar-benar menasihatimu. Aku benar-benar sayang kepadamu.”
(Az-Zuhd Wa Ar-Raqa’iq, Ibnu Mubarak, ha1.304-305)
69
ITU ADALAH
lNTl DARI SEMUA PERSOALAN
Mu'awiyah bin Qurrah berkata, “Aku
pernah menemui Hasan bin Ali ketika dia' sedang bersandar di atas dipannya.
Lalu aku bertanya, “llai Abu Sa’id, amal apakah yang paling disukai Allah?” Dia
menjawab, “Shalat di tengah malam ketika manusia tertidur lelap.” “Lalu puasa
apa yang paling utama?” tanyaku. Dia menjawab, “Puasa pada hari yang sangat
panas.” Lalu aku bertanya, “Budak apa yang paling baik (untuk dimerdekakan)?”
Dia menjawab, “Yang paling berharga bagi pemiliknya dan paling mahal harganya.”
Lalu aku bertanya, “Apa pendapatmu tentang wara” (menjaga diri dari hal-hal
yang haram)?” Dia menjawab, “Itu adalah inti dari semua persoalan.” (Shalahul Ummah,
Sayyid Al-Afani, 4/324-325)
71
TANDA CINTA
KEPADA ALLAH
Rabi' bin Anas berkata, “Tanda cinta
kepada Allah adalah dengan banyak menyebut-Nya. Sebab, setiap kali engkau
mencintai sesuatu, maka engkau akan sering menyebutnya. Sedangkan tanda agama
adalah ikhlas kepada Allah di saat tertutup maupun terbuka. Dan tanda syukur
adalah rela menerima takdir (ketentuan) Allah dan pasrah terhadap qadla
(keputusan)-Nya.” (Madarijus Salikin, Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, 2/218)
79
NERAKA
MEMBUATNYA TIDAK TIDUR
Malik pernah mengatakan, “Dulu Sofwan bin Sulaim suka mengerjakan shalat
malam pada musim dingin di atas atap dan pada musim panas di dalam rumah. Dia
berusaha agar terus terjaga dengan media panas dan dingin sampai Subuh.”
Lalu dia mengatakan, “Itulah
kesungguhan dari seorang Sofwan. Dan anda lebih tahu bahwa kedua kakinya
bengkak sampai dia seperti orang cacat akibat shalat malam. Tampaklah urat-urat
yang berwarna hijau. Dulu, Sofwan dan para ahli ibadah lainnya suka mengerjakan
shalat malam pada musim dingin hanya dengan memakai satu baju, agar hawa dingin
bisa mencegahnya dari tidur. Ada juga di antara mereka yang apabila mengantuk,
maka dia merendam dirinya di dalam air seraya bergumam, “Ini lebih ringan
daripada nanah Neraka Jahannam.” (Ruhbanul Lail, hal.185)
82
AKU TIDAK
TAHU MANA YANG LEBIH BAIK
Yunus bin Ubaid mengatakan, “Ada
seorang pria yang bertanya kepada Abu Tamimah, “Apa kabarmu pagi ini?” Dia
menjawab, “Pagi ini aku mendapatkan dua anugerah yang aku tidak tahu mana yang
lebih baik di antara keduanya; dosa-dosa yang ditutupi oleh Allah, sehingga
tidak ada orang yang mengejekku, dan rasa cinta yang dihujamkan oleh Allah ke
dalam hati para hamba (kepadaku) yang tidak mungkin bisa kuketahui. (Uddatus
Shobz'rin, Ibnu Qayyim AlJauziyah, hal.119)
85
PENGAKUAN
YANG SEHARUSNYA
Anbasah bin Azhar mengatakan, “Muharib bin Datstsar adalah seorang qadli
(hakim) bagi warga Kufah. Rumahnya bersebelahan dengan rumahku. Terkadang di
malam hari aku mendengar suaranya yang keras “mengatakan, “Aku adalah anak
kecil yang Engkau pelihara, maka segala puji bagi-Mu. Aku adalah orang lemah
yang Engkau kuatkan, maka segala puji bagi-Mu. Aku adalah orang miskin yang
Engkau ubah menjadi kaya, maka segala puji bagi-Mu. Aku ' adalah orang asing
yang Engkau urus dengan baik, maka segala puji bagi-Mu. Aku adalah orang
melarat yang Engkau beri harta, maka segala puji bagi-Mu. Aku adalah bujangan
yang Engkau nikahkan, maka segala puji bagi-Mu. Aku adalah orang lapar yang
Engkau beri makanan, maka segala puji bagi-Mu. Aku adalah orang telanjang yang
Engkau beri pakaian, maka segala puji bagi-Mu. Aku adalah pengembara yang
Engkau temani, maka segala puji bagi-Mu. Aku adalah orang hilang yang Engkau
kembalikan, maka segala puji bagiv Mu. Aku adalah pejalan kaki yang Engkau beri
tumpangan, maka segala puji bagi-Mu. Aku adalah orang sakit yang Engkau
sembuhkan, maka segala puji bagi-Mu. Aku adalah pengemis yang Engkau beri, maka
segala puji bagi-Mu. Dan aku adalah pemohon yang Engkau kabulkan permohonannya,
maka segala puji bagi-Mu. Tuhanku, segala puji bagi-Mu atas semua pujianku
kepada-Mu.” (Asyukru, Ibnu Abid Dunya, hal.166)
85
APAKAH
ENGKAU MENANGISI UANG ITU?
Fudlail bin Iyadl berkata, “Aku tidak
pernah melihat orang yang lebih zuhud daripada seorang lelaki asal Khurasan.
dia pernah duduk di dekatku di masjid kemudian bangkit untuk melaksanakan
thawaf. Tapi tiba-tiba uang yang dibawanya dicuri orang. Lalu dia pun menangis
tersedu-sedu. Lantas aku berkata, “Apakah engkau menangisi uang itu?” Dia
menjawab, “Tidak. Akan tetapi aku membayangkan bahwa aku dan dia berada di
hadapan Allah, sementara akalku tidak tega untuk membatalkan alasannya. Jadi,
aku menangis karena kasihan kepadanya.” (Ihyak Ulumiddin, Al-Ghazali, 3/
195-196)
96
MAHAGURU DALAM
KELUHURAN BUDI
Ibrahim bin Adham pernah keluar ke
sebuah gurun pasir, lalu dia disambut oleh seorang prajurit. Prajurit itu
lantas bertanya kepadanya, “Kamu seorang hamba?” “Ya,” jawab Ibrahim. “Di mana
perkampungan?” tanyanya lagi. Lalu Ibrahim menunjuk ke arah kuburan. Si
prajurit itu lantas berkata, “Aku menginginkan perkampungan! Itu kuburan,”
jawab Ibrahim. Hal itu membuat si prajurit naik pitam dan memukul kepala
Ibrahim dengan cemeti hingga terluka dan mengembalikannya ke desa. Dia disambut
oleh teman-temannya, lalu mereka bertanya, “Bagaimana ceritanya?” Prajurit itu
lantas menceritakan apa yang dikatakan oleh Ibrahim kepadanya. Lalu mereka
berkata, “Ini Ibrahim bin Adhamll” Mendengar hal itu si prajurit itu pun turun
dari kudanya, lalu mencium tangan dan kaki Ibrahim. Dia pun meminta maaf kepadanya.
itu Ibrahim ditanya, “Mengapa engkau
mengatakan kepadanya, ”Aku seorang hamba'?” Ibrahim menjawab, “Dia tidak
bertanya kepadaku, *Hamba siapa kamu?” Dia hanya bertanya, 'Kamu seorang
hamba?” Maka aku menjawab, ‘Ya’ Karena aku adalah hamba Allah. Lalu ketika dia
memukul kepalaku, aku memohon kepada Allah agar dia mendapatkan Surga.” Lalu
Ibrahim ditanya, “Bagaimana mungkin, sementara dia sudah berbuat zhalim
kepadamu?” Ibrahim menjawab, “Aku tahu bahwa aku akan mendapatkan pahala atas
apa yang aku terima darinya. Maka aku tidak ingin mendapatkan bagian yang baik
dari dia, sementara dia mendapatkan bagian yang buruk dariku.” (Ihyak
Ulumiddin, Al-Ghazali, 3/76)
104
KEDUA
MATANYA BUTA KARENA MENANGIS
Hasan _bin Arafah mengatakan, “Aku
pernah melihat Yazid bin Harun di Wasith. Dia memiliki dua mata yang paling
indah. Kemudian aku melihatnya hanya memiliki satu mata. Belakangan aku
melihatnya telah kehilangan kedua matanya. Lalu aku bertanya, “Hai Ahu Khalid,
apa yang terjadi pada kedua matamu yang indah?” Dia menjawab, “Dibawa pergi
oleh tangisan menjelang fajar.” (Shifatus Shafwah, Ibnul Jauzi, 2/9)
105
AKHIRAT
LEBIH DEKAT DARIPADA DUNIA
Fudlail bin Abdul Wahhab mengatakan,
Suatu hari aku mendengar saudaraku berkata, “Akhirat itu lebih dekat daripada
dunia. Sebab, seseorang merasa begitu penting untuk mencari dunia, sehingga
boleh jadi dia akan mengadakan perjalanan yang akan melelahkan badan dan
menghabiskan dana. Kemudian boleh jadi dia tidak mendapatkan apa yang dia
inginkan. Sementara orang yang mencari Akhirat paling jauh dituntut untuk
memasang niat yang baik di manapun dia berada, tanpa perlu mengadakan
perjalanan jauh, menghabiskan dana, atau melelahkan badan. Dia hanya perlu
menanamkan niat untuk selalu taat kepada Allah, maka tiba-tiba dia telah
mendapatkan apa yang ada di sisi Allah.” (Shifatus Shahnah, Ibnul Jauzi, 2/99)
109
AKU
MENGELUHKAN DOSA DAN KESALAl-MNKU
Anas bin Malik
mengatakan, “Kami pernah menjenguk Abdullah bin Mas'ud yang tengah terbaring
sakit. Lalu kami bertanya, “Bagaimana kabarmu pagi ini, hai Abu Abdirrahman?”
Dia menjawab, “Berkat karunia Allah pagi ini kita masih menjadi saudara.”
Kami bertanya, “Apa yang kau rasakan, hai Abu Abdirrahman?”
Dia menjawab, “Aku merasakan bahwa hatiku tentram dengan iman.”
Kami bertanya, “Apa yang kau keluhkan, hai Abu Abdirrahman?”
Dia menjawab, “Aku mengeluhkan dosa-dosa dan kesalahanku.”
Kami
bertanya, “Apakah engkau tidak menginginkan sesuatu?” Dia menjawab, “Aku
menginginkan ampunan dan ridha Allah.”
Kami
bertanya, “Apakah kami perlu memanggil dokter?” Dia menjawab, “Sang Dokter
telah membuatku sakit.” (Al-Muhtadlirin, lbnu Abid Dunya, hal.238-239; Tarikh
Dimasyqa, Ibnu Asakir, 14/270)
115
PAHITNYA
DUNIA ADALAH MANISNYA AKHIRAT
Syuraih bin Abd Al-Hadlrami
mengatakan, “Ketika mendekati ajalnya, Abu Malik Al-Asy'ari ..ga mengatakan
kepada beberapa orang dari klan Asy'ari, “Hendaknya orang yang hadir
menyampaikan kepada yang tidak hadir, bahwa aku mendengar Rasulullah Q'
bersabda, “Manisnya dunia adalah pahitnya Akhirat, dan pahitnya dunia adalah
manisnya Akhirat.” (HR. Ahmad, AI-Musnad, 5/ 342)
116
MASIH MEMBACA AL QUR'AN SAMPAI MATI
Hakam bin Utaibah
mengatakan, “Ketika mendekati ajalnya, Abdurrahman bin Aswad menangis. Lalu dia
ditanya, “Apa yang membuatmu menangis?” Dia menjawab, “Karena merasa sayang
pada puasa dan shalat.” Lalu dia terus membaca Al-Qur'an sampai mati. Kemudian
ada orang yang bermimpi bahwa dia menjadi ahli Surga.”
Menurut Hakam, orang itu tidak jauh dari
hai tersebut. Sebab, dia selalu beramal untuk dirinya dengan sungguh-sungguh
untuk mengantisipasi hari kematiannya. (AI-Muhtadlirin, Ibnu Abid Dunya,
hal.147; Tahdzibul Kamal, Al-Mizzi, 16/ 532-533)
117
MENANGIS
JIHAD KETIKA MENINGGAL DUNlA
Ghassan Al-Ghilabi mengatakan, “Ketika
meninggal dunia Yunus bin Ubaid memandangi kedua kakinya lalu menangis.
Kemudian dia ditanya, “Apa yang membuatmu menangis?” Dia menjawab, “Aku ingat
bahwa kedua kakiku belum pernah berdebu di jalan Allah.” (As-Siyar, 6/291)
121
TIDAK BlSA
TIDUR KARENA TAKUT NERAKA
Ada seorang mantan budak bernama
Shuhaib yang suka begadang di waktu malam dan menangis. Dia pun ditegur oleh
mantan tuannya, “Kamu merusak dirimu.” Dia menjawab, “Sesungguhnya apabila
Shuhaib mengingat Surga, maka kerinduannya menjadi panjang. Dan apabila
mengingat Neraka, maka rasa kantuknya menjadi hilang.”
Ketika malam tiba, Sofwan bin Mahraz
melenguh seperti sapi. Lalu dia mengatakan, “Aku tidak bisa tidur karena takut
Neraka.” (Ruhbanul Lail, Sayid Al-Afani, hal.88)
124
SEORANG
GADIS MENEMPEL Dl KELAMBU KA’BAH SERAYA MEMANJATKAN DOA DAN MENANGlS SAMPAl
MATI
Ya'la bin Hakim menyatakan bahwa Sa'id
bin Jubair pernah berkata, “Aku tidak melihat orang yang lebih perhatian dan
lebih kuat komitmennya dalam menghOrmati Baitullah ini daripada penduduk
Basrah. Karena aku pernah melihat seorang gadis pada suatu malam menempel di
kelambu Ka'bah. Dia memanjatkan doa, menghiba dan menangis hingga meninggal
dunia.” (As-Siyar, Adz-Dzahabi. 4/334)
126
WAHAI ORANG
YANG TERPESONA OLEH KESEHATANNYA YANG PANJANG…
Wahai orang yang
terpesona oleh kesehatannya yang panjang, tidak pernahkah engkau melihat orang
yang mati tanpa sakit sama sekali?
Wahai orang yang
terpesona oleh waktu luangnya yang panjang, tidak pernahkah engkau melihat
orang yang diambil tanpa bekal sama sekali?
Engkau berpikir tentang panjangnya umurmu,
maka engkau akan lupa terhadap kenikmatan yang pernah kau rasakan. Apakah
engkau terpesona oleh kesehatan? Apakah engkau bangga dengan keselamatanmu dari
marabahaya dalam jangka waktu yang lama? Apakah engkau merasa aman dari
kematian? Apakah engkau berani berhadapan dengan Malaikat maut? Sesungguhnya
ketika Malaikat maut itu telah datang, maka dia tidak akan bisa dicegah oleh
kekayaan seorang raja ataupun banyaknya pendukung. Tidak tahukah engkau bahwa
saat kematian adalah saat yang sangat sulit, menyesakkan dan penuh penyesalan
atas kelalaian yang pernah dnakukan?
Lalu dia mengatakan, “Semoga Allah
mengasihi orang yang beramal untuk menghadapi saat-saat kematian. Semoga Allah
mengasihi orang yang beramal untuk menghadapi masa sesudah kematian. Semoga
Allah mengasihi hamba yang memperhatikan dirinya sebelum datangnya kematian.”
(Shifatus Shafwah, Ibnul Jauzi, 3/347; Qisharul Amal, Ibnu Abid Dunya, hal.623
138
MENGELUHKAN
KESULITAN HlDUP
Yunus_ bin Ubaid pernah didatangi
seorang pria yang mengadukan kesulitan hidupnya. Yunus bertanya kepadanya,
“Apakah engkau senang bila mata yang engkau pakai untuk melihat itu ditukar
dengan 1000 Dirham?” “Tidak,” jawab pria itu. “Bila kedua tanganmu ditukar
dengan 100.000 Dirham?” tanya Yunus. “Tidak,” jawab pria itu. “Kedua kakimu?”
tanya Yunus lagi. “Tidak,” jawab pria itu lagi.
Yunus
terus-menerus mengingatkan pria itu tentang berbagai karunia Allah yang ada
pada dirinya. Lalu Yunus berkata, “Menurutku, engkau mempunyai ratusan ribu
dirham, tetapi engkau mengeluh tidak punya apa-apa.” (Uddatus Shabirin, Ibnu
Qayyim AlJauziyah, hal.125)
141
AKU KHAWATIR
TEMAN-TEMANKU KEDlNGlNAN
Ibrahim bin Adham pernah bepergian
bersama tiga orang temannya, lalu mereka masuk masjid di tengah padang pasir.
Malam itu udara sangat dingin sementara masjid itu tidak memiliki daun pintu.
Ketika mereka tertidur, maka Ibrahim bangun dan berdiri di depan pintu sampai
pagi. Dan ketika dia ditanya, “Mengapa engkau tidak tidur?” Dia menjawab, “Aku
khawatir kalian kedinginan, maka aku pun berdiri di pintu.” (At-Tabshirah,
Ibnul Jauzi, 2/301-302)
144
WAKTU
BERANGKAT SUDAH TIBA, TETAP ENGKAU TIDAK PUNYA BERITA
Ibnu Jauzi mengatakan,
“Saudaraku, waktu berangkat sudah tiba, tetapi engkau tidak punya berita.
Sampai kapan engkau diberi nasihat dan engkau tidak mengamalkannya? Engkau
dibangunkan dan engkau tidak mau bangun? Engkau membuat penceramah kelelahan
dan engkau tidak mau menerimanya?
Cukuplah penjelasannya bahwa engkau melihat teman-teman sebayamu
telah pergi meninggalkanmu (mati).
“Maka apakah ini
sihir? Ataukah kamu tidak melihat?” (QS Ath-Thuur: 15)
Apakah engkau
dibebani dengan kewajiban yang tidak mampu Engkau kerjakan? Apakah engkau dia'
' Jak bicara tentang sesuatu yang tidak engkau pahami? Mengapa engkau berpaling
dari tempatmu berpulang? Mengapa engkau begitu lemah, padahal engkau sehat wal
aflat? Mengapa engkau tidur, padahal engkau terjaga?
Betapa banyak orang yang berharap untuk bertemu bulan
tertentu, tetapi tidak berhasil bertemu dengannya! Karena maut tiba-tiba datang
menjemputnya.
Betapa banyak orang yang benar-benar berharap menunggu hari
puasanya, tetapi tangan ajal tiba-tiba menghapus harapannya dengan kematian!
Betapa
banyak orang yang merindukan perjumpaan dengan teman-teman sebayanya, tetapi
kematian lebih dahulu melemparkannya ke dalam tanah! (At-Tabshirah, Ibnul J
auzi, 2/ 821
146
AHLI MUSIBAH
DAN MAKSIAT MEMANG PANTAS MENERIMA INI
Muhammad bin Hurr bin Abdi Rabbihi
Al-Qaisi, salah satu kerabat Rabah bin Amr Al-Qaisi, mengatakan, “Aku pernah
menemuinya (Rabah bin Amr Al-Qaisi) di masjid. Saat itu dia sedang menangis.
Aku juga pernah menemuinya di rumah, dan dia juga sedang menangis. Aku pun
pernah menemuinya di gunung dan dia pun sedang menangis.
Lalu pada suatu hari aku bertanya
kepadanya, “Mengapa sepanjang hidupmu engkau selalu berduka?” Dia pun menangis
seraya berkata, “Orang yang ahli musibah dan maksiat memang pantas menerima
ini.”
Dia juga pernah menangis seraya
mengatakan" sampai berapa lama, wahai malam dan siang, kalian menurunkan
ajalku sementara , aku lalai terhadap apa yang dikehendaki dariku” (Shzfatus
Shafwah, Ibnul JauZi, 3/367-368) u. '
147-149
MATI KARENA
AL.QUR'AN, NASIHAT DAN KESEDIHAN
Kami pernah mengikuti majelis Shalih
Al-Murri. Ketika dia sedang berbicara, tiba-tiba dia berkata kepada seorang
pemuda yang ada di depannya, “Bacalah, anak muda!” Pemuda itu pun membaca
firman Allah :
“Berilah
mereka peringatan dengan hari yang dekat ketika hati sampai di kerongkongan
dengan menahan kesedihan. Orang-orang yang zhalim tidak mempunyai teman setia
seorangpun dan tidak mempunyai seorang pemberi syafaat yang bisa diterima
syafaatnya. ” (QS. Gaaiir/Al-Mukmin: 18)
Kemudian Shalih memotong bacaannya dan berkata, “Mana mungkin
orang-orang yang zhalim mempunyai teman setia atau pemberi syafaat, sementara
penuntutnya adalah Rabb semesta alam? Seandainya engkau melihat orang-orang
zhalim dan ahli maksiat digiring dengan tangan teramai dan kaki terpasung
menuju Neraka Jahim; tanpa alas kaki, bertelanjang bulat, wajahnya menghitam,
matanya membiru, dan tubuhnya meleleh. Mereka semua berseru, “Celakalah kita!
llaneurlah kita! Apa yang akan menimpa kita? Apa yang akan kita alami? Dibawa
ke mana kita? Apa yang diinginkan dari kita?”
Para Malaikat menggiring mereka dengan gada api. Ada yang diseret pada
wajah dan ditarik pada pundaknya. Ada pula yang digiring ke sana dalam keadaan
terbelenggu. Ada yang menangis darah setelah kehabisan air mata. Ada pula yang
berteriak' histeris, hatinya terbang entah ke mana, dan mulutnya diam seribu
bahasa.
Demi Allah, seandainya engkau melihat
peristiwa itu niscaya engkau akan menyaksikan pemandangan yang membuat matamu
tak kuasa melihatnya, hatimu tak sanggup menahan haru, dan kakimu tak sanggup
menahan beban tubuhmu, karena begitu seram dan amat ' memilukan.
Dia pun menangis tersedu-sedu
dan berteriak, “Oh buruk sekali masa depanku.” Dia menangis dan orang-orang pun
menangis. Lalu ada seorang pemuda dari Azd berdiri dan bertanya, 5“Apakah semua
itu terjadi pada Hari Kiamat, hai Abu Basyar?” Dia menjawab, “Ya, demi Allah,
wahai anak saudaraku, dan itu tidak berlebihan. Aku mendengar informasi bahwa
di dalam Neraka mereka berteriak hingga suara mereka habis, sehingga hanya
tersisa seperti suara rintihan orang yang sakit keras.”
Pemuda itu lantas berteriak, “Demi
Allah, betapa lalainya aku terhadap diriku sendiri selama hidupku. Betapa
menyesalnya diriku terhadap kealpaanku dalam melaksanakan ketaatan kepada-Mu,
wahai Tuhanku. Betapa menyesalnya aku karena telah menyianjiakan umurku di dunia.”
Lalu dia menangis, menghadap kiblat dan berkata,
“Ya Allah, hari ini aku menghadap ke
hadirat-Mu dengan membawa taubat yang tidak bercampur riya' kepada selain
Engkau. Ya Allah, terimalah aku sesuai dengan apa yang ada pada diriku.
Ampunilah perbuatanku yang telah lalu. Anggaplah sedikit kesalahanku.
Sayangilah aku dan orang yang hadir bersamaku. Anugerahilah kami dengan
kedermawanan dan kemurahan hati-Mu, wahai Rabb yang Maha Penyayang di antara
orang-orang yang penyayang. Kepada-Mu aku lemparkan beban dosa dari leherku.
Kepada-Mu aku kembali dengan seluruh organ tubuhku, serta dengan hati yang
tulus kepada-Mu. Maka, celakalah aku bila Engkau tidak berkenan menerimaku.”
Pemuda itu tidak kuasa menahan diri hingga akhirnya jatuh pingsan. Dia
digotong di antara orang banyak dalam kondisi pingsan. Selanjutnya, Shalih dan
teman-temannya selalu menjenguknya selama beberapa hari, hingga kemudian pemuda
itu meninggal dunia. Segala puji bagi Allah. Banyak sekali orang yang
menghadiri pemakamannya; mereka menangisinya dan memanjatkan dua untuknya.
Syaikh Shalih seringkali menyebutnya di dalam majelism a. Dia mengatakan,
“Sungguh, dia mati karena Al-Qurlan. nasihat d3“ kesedihan.” (Masyahid An-Naas
Indal Maul, Abdurrahman khulaif, hal.99)
158
SERUAN KUBUR
SETIAP HARI
Bilal bin Sa'ad pernah mengatakan,
“Setiap hari kubur selalu berseru, “Akulah rumah kesepian, rumah belatung dan
kesepian. Aku adalah salah Satu jurang Neraka atau taman Surga.”
Jika orang mukmin diletakkan di dalam
liang lahatnya, maka bumi pun berbicara kepadanya dari bawahnya. Bumi
mengatakan, “Demi Allah, dulu aku menyukaimu ketika engkau berjalan di atas
punggungku, lalu bagaimana ketika engkau berada di dalam perutku? Bila engkau
diserahkan kepadaku, maka engkau akan tahu apa yang akan aku perbuat.” Kemudian
liang lahatnya itu menjadi luas sejauh
pandangan matanya.
Sebaliknya, jika orang kafir
dikuburkan, maka bumi akan berkata, “Demi Allah, dulu aku membeneimu ketika
engkau berjalan di atas punggungku. Bila engkau diserahkan kepadaku, maka
engkau akan tahu apa yang akan aku perbuat.” Kemudian bumi menghimpitnya hingga
berantakan tulang belulangnya. (Syarhus Shudur, As-Suyuthi, hal.157)
167
BEGlNlLAH
SEORANG HAMBA BERSYUKUR KEPADA TUHANNYA
Ada seorang pria
bertanya kepada Abu [lazim, “Bagaimana cara mensyukuri mata, hai Abu ilazim?”
Abu Hazim menjawab, 'Jika engkau melihat sesuatu yang baik, maka engkau
mengumumkannya. Dan jika engkau melihat sesuatu yang buruk, maka engkau
menutupinya."
“Lalu bagaimana cara mensyukuri
telinga?” tanyanya. Abu Ilazim menjawab, “Jika engkau mendengar sesuatu yang
baik, maka engkau menampungnya. Dan jika engkau mendengar sesuatu yang buruk,
maka engkau menutupinya.”
“Bagaimana
cara mensyukuri tangan?” tanya pria itu lagi. Abu Ilazim menjawab, “Jangan
menggunakannya untuk mengambil sesuatu yang bukan milikmu, dan jangan
menghalangi hak Allah yang ada padanya.”
““Bagaimana
cara mensyukuri'perut?” tanya pria itu selanjutnya. Abu ilazim menjawab,
“Menjadikan bagian bawahnya sebagai tempat makanan dan bagian atasnya sebagai
tempat ilmu.”
“ Lalu bagaimana cara mensyukuri
kaki?” tanya pria itu kembali. Abu Hazim menjawab, “Jika engkau melihat orang
hidup yang engkau merasa ingin seperti dia, maka engkau menggunakannya (kaki)
untuk beramal seperti dia. Jika engkau melihat orang mati yang engkau benci,
maka engkau menahannya (kaki) agar tidak beramal seperti dia. Begitulah engkau
bersyukur kepada Allah. Adapun orang yang bersyukur dengan lisannya tapi tidak
bersyukur dengan anggota tubuhnya, maka dia seperti orang yang mempunyai
pakaian, lalu dia memegang ujungnya dan tidak memakainya. Akibatnya, pakaian
itu tidak memberikan manfaat apa-apa kepadanya; tidak bisa melindunginya dari
udara yang panas, dingin, salju maupun hujan.” (Uddatus Shobirin, Ibnu Qayyim
AleJauziyah, ha1.128-129)
172
MENGHARAP
AMPUNAN ALLAH KARENA SELALU MENCARI RlDHA-NYA
Ibnu Khalkan berkata, “Hasan Al-Bashri
pernah ditanya tentang Amr bin Ubaid, lalu dia mengatakan, “Sungguh, engkau
menanyakan tentang orang yang seolah-olah dibina oleh para Malaikat dan dididik
oleh para Nabi. Jika dia mengerjakan sesuatu maka dia akan memperhatikannya
dengan sungguh-sungguh. Jika dia memperhatikan sesuatu, maka dia akan
mengerjakannya dengan sungguh-sungguh. Jika dia memerintahkan sesuatu, maka dia
adalah orang yang paling konsisten dalam menjalankannya. Jika dia melarang
sesuatu maka dia adalah orang yang paling konsisten dalam menghindarinya. Aku
tidak pernah melihat orang yang lahirnya lebih sesuai dengan batinnya
dan batinnya
lebih sesuai dengan lahirnya daripada dia.”
Ibnu Khalkan berkata, “Ketika
menjelang wafat, dia mengatakan kepada sahabatnya, “Kematian telah datang
kepadaku, padahal aku belum menyiapkan bekal untuknya.” Kemudian dia berkata
lagi, “Ya Allah, sesungguhnya setiap kali aku dihadapkan pada dua pilihan, yang
satu Engkau ridhai dan yang lain sesuai dengan keinginanku. Maka aku selalu
memilih yang, engkau Iidhai dan mengalahkan keinginanku. Maka ampunilah aku.”
(“'qfayaml A’yan, Ibnu Khalkan, 3/362)
177
TIDAK ADA
WAKTU LUANG BAGlNYA
Itulah Imam Sulaim Ar-Razi, Syaikh
madzhab Syafi'i pada izamannya. Dia selalu memperhitungkan waktu, sehingga
tidak ada sedikit pun waktu yang berlalu tanpa faedah; adakalanya ia menulis,
mengajar atau membaca.
Ibnu Asakir mengatakan, “Abul Faraj
Al-Isiirayini pernah bercerita tentang dia (Sulaim Ar-Razi), bahwa suatu hari
dia pernah singgah di rumahnya dan pulang. Lalu dia mengatakan, “Aku membaca
satu juz di jalan.” Suatu ketika ujung penanya pecah ketika dia sedang menulis.
Lalu sambil memperbaiki penanya, dia menggerak-gerakkan bibirnya. Sehingga aku
pun tahu bahwa dia membaca sambil memperbaiki pena, supaya tidak ada sedikit
pun masa atau waktu yang luang baginya.” (Qimatul Waqli, Ibnu Abid Dunya,
hal.50*51)
184
AKU SUDAH PERGl DARI DUNiA
Ibnu Khuzaimah dan lain-lain
meriwayatkan bahwa Al-Muzani berkata,
“Aku pernah menemui Imam Syafi'i
ketika dia sedang sakit berakhir pada kematiannya. Aku bertanya, “Hai Abu
Abdillah, bagaimana keadaanmu pagi ini?” Dia mengangkat kepalanya dan menjawab,
“Pagi ini aku sudah pergi dari dunia, meninggalkan teman-temanku, berjumpa
dengan amal perbuatanku yang buruk dan menghadap ke hadirat Allah. Aku tidak
tahu apakah rohku kembali ke Surga, sehingga aku bisa memberikan ucapan selamat
kepadanya. Ataukah pergi ke Neraka, sehingga aku perlu berbeia sungkawa
kepadanya?”
Kemudian dia
menangis dan melantunkan syair:
Tatkala Hatiku Mengeras dan
Dosa-dosaku menggunung dan menindihku
tetapi ketika kubadingkan dengan ampunamnu
,
Ternyata ampunnnmu jauh lebih besar.
Engkau masih tetap mengampuni dosa
dasa
Engkau masih tetap dermawan dan murah
hati.
Andai tanpa-Mu ahli ibadah takkan
tersesat
oleh tipu daya dan bujuk rayu iblis.
Bagaimana tidak? Adam kekasih-Mu pun
tergoda tipu dayanya.
Aku anakukan dosa dan aku tahu
kadarnya Tapi kuyakin Allah berkenan mengampuninya.
(Shifatus Shofwah, lbnul Jauzi, 2/146
dan Tawali At-Ta'sis, hal.:Bg).
186
MENANGIS DARI AWAL MALAM SAMPAl PAGl HARI
imam Ahmad mengatakan, “Aku pernah melihat sejumlah orang shalih. Aku
melihat Abdullah bin Idris dengan jubah bulu yang lusuh selama bertahun-tahun.
Aku melihat Abu Daud Al-Khudlori dengan jubah yang robek dan kapasnya keluar
darinya. Ketika dia sedang shalat, tubuhnya bergoyang karena menahan lapar. Aku
juga melihat Ayyub An-Najjar ketika dia sudah meninggalkan semua yang dia
miliki. Di dalam masjid juga ada seorang pemuda tanggung yang dikenal dengan
Al-Atlfl; dia bangun mulai awal malam sampai pagi, hanya menangis.” (Al-Mudhisy,
Ibnul J auzi, hal.312)
191
AKU lNGlN
TlDUR, TETAPl
Ruh bin Salamah Al-Warraq pernah berkata
kepada Ufairahf (wanita yang dikenal sebagai ahli ibadah), “Aku mendengar kabar
bahwa engkau tidak tidur di malam hari." Lalu wanita itu menangis, seraya
berkata, “Terkadang aku ingin tidur, tetapi aku tidak bisa. Mana mungkin aku
bisa tidur jika selalu dijaga oleh dua orang yang tidak tidur sepanjang malam
dan siang?!"
“Demi Allah,” kata Ruh bin Salamah,
“dia membuatku menangis dan aku pun berkata di dalam hati, “Aku melihatku dalam
satu hal dan aku melihatnya dalam hal yang lain.” (Shifatus Shafwah, Ibnul
Jauzi, 4/33)
194
KESABARAN
YANG LUAR BlASA
Ashnaf bin Qais berkata, “Aku tidak
belajar kesabaran selain dari Qais bin Ashim Al-Man'ari. Ketika itu
keponakannya dibunuh, lalu pembunuhnya ditangkap dan digiring ke hadapannya.
Dia berkata, “Kalian telah membuat pemuda itu ketakutan!” Dia menghampiri
pemuda itu seraya berkata, “Jelek sekali perbuatanmu! Engkau telah mengurangi
jumlahmu, melemahkan kekuatanmu, menyenangkan musuhmu, berbuat buruk kepada
kaummu, berbuat dosa kepada Tuhanmu, memutus tali persaudaraanmu, dan menembak
dirimu sendiri dengan anak panahmu. Lepaskan dia, dan bawalah dial-nya kepada
ibu korban, karena dia sebatang kara.”
Kemudian si pembunuh itu pun pergi, sedangkan Qais tidak beranjak dari
tempat duduknya. Raut mukanya tidak berubah, (Wafayatul A’yan, Ibnu Khalkan,
2/188; Al-Bidayah wan-Nihayah, Ibnu Katsir, 8/ 327)
199
ENGKAU
MENYlA-NYlAKAN TITIPAN ALLAH KEPADAMU
Bilal bin Sa'ad berkata, “Wahai hamba
Allah yang Maha Penyayang, apa yang dititipkan Allah kepadamu engkau
sia-siakan. Sedangkan apa yang dijamin oleh Allah akan diberikan kepadamu
justru engkau cari. Bukan begitu Allah menugaskan hamba-hambaNya yang beriman;
sangat eerdas dalam mencari dunia, tapi idiot dalam memahami tujuan
peneiptaanmu. Bila engkau berharap kepada Allah dengan ketaatan yang engkau
kerjakan, maka takutlah pada hukuman Allah akibat kemaksiatan yang engkau
perbuat.” (AzZuhd Al-Kabir, Al-Baihaqi, 88)
206
KETETAPAN
ALLAH PADA DIRIKU LEBIH BAIK DARI PADA PENGLIHATAN KU
Ketika Sa'ad bin Abi Waqqash “gga,
datang ke Makkah dalam kondisi sudah buta, maka orang-orang pun bergegas
menemuinya. Setiap orang memintanya agar berdoa untuk ini dan itu, karena
doanya mustajab. Lalu Abdullah bin Saib berkata, “Kemudian aku pun
mendatanginya (ketika itu aku masih remaja). Aku memperkenalkan diri kepadanya,
dan ternyata dia sudah mengenalku. Dia bertanya, “Engkau qori'-nya orang Makkah?”
“Ya, jawabku.
Abdullah pun bercerita hingga akhirnya
mengatakan, “Lalu aku bertanya kepadanya, “Paman, engkau berdoa untuk orang
banyak. Seandainya engkau berdoa untuk dirimu sendiri agar Allah mengembalikan
penglihatanmu'.” Dia tersenyum dan berkata, “Anakku, ketetapan Allah pada
diriku lebih baik daripada pengihatanku.” (I thafus Sedah, Az-Zubaidi, 12/ 578)
210
TERLENA OLEH
DUNlA
Ibnul Jauzi mengatakan, “Barangsiapa
berpikir tentang akhir perjalanan dunia, maka dia akan waspada. Barangsiapa
meyakini bahwa jalan ini sangat panjang, maka dia akan bersiap-siap untuk
menempuh perjalanan panjang. Aneh sekali ulahmu, wahai orang yang meyakini
sesuatu kemudian melupakannya dan orang yang meyakini adanya bahaya yang bakal
datang kemudian menutupinya. Allah SWT berfirman: “Engkau takut kepada manusia,
padahal Allah lebih berhak engkau takuti. ” (QS. Al-Ahzabzg7)
“Nafsumu didominasi oleh apa yang
engkau sangka,,dan bukan pada apa yang engkau yakini. Yang lebih mengherankan
engkau merasa gembira terhadap keterlenaanmu dan engkau melupakan kelupaanmu
terhadap apa yang disembunyikan untukmu. Engkau terlena oleh kesehatanmu dan
melupakan sakit yang semakin mendekat. Engkau bersuka cita dengan kebugaranmu
dan lalai akan penderitaan yang kian mendekat.” (Shaidul Khamir, Ibnul Jauzif
hal.8)
211
SURGA ITU
MAHAL HARGANYA
Dulu ada seorang wanita mantan budak
yang dimerdekakan oleh Ibrahim An-Nakha'i. Wanita itu sengaja mencari hari yang
sangat panas untuk berpuasa. Kemudian ada orang yang bertanya kepadanya,
“Engkau sengaja mencari hari-hari yang paling panas untuk berpuasa?” Wanita itu
menjawab, “Apabila harga barang itu murah, maka semua orang bisa membelinya.”
(Shifatus Shafwah, Ibnul Jauzi, 4/46)
214
MENGHORMATI
HADIS RASULULLAH
Adalah
Imam Malik, apabila hendak menyampaikan Hadis. maka dia mengambil air wudhu
lalu duduk di tempat duduknya menyisir jenggotnya, dan memantapkan duduknya
dengan tenang dan berwibawa. Barulah kemudian ia menyampaikan Hadis.
Ketika ditanya tentang hal itu, dia
mengatakan, “Aku ingin menghormati Hadis Rasulullah its. Aku tidak mau
berbicara tentang beliau, kecuali dalam kondisi yang benar-benar suci.”
Konon Imam Malik tidak mau
menyampaikan Hadis sewaktu di jalan, berdiri atau dalam keadaan yang
tergesa-gesa. Dalam hal ini dia mengatakan, “Aku ingin berusaha memahami Hadis
yang aku riwayatkan dari Rasulullah 3523.” Dia juga tidak mau naik kendaraan di
kota Madinah, kendati dia sudah lemah dan tua. Dia mengatakan, “Aku tidak mau
naik kendaraan di dalam kota tempat jasad Rasulullah as dikubur."
(Wafayatul A'yan, Ibnu Khalkan, 3/362)
220
SHALAT
SAMPAI BENGKAK KAKINYA
Istri Masruq mengatakan, “Masruq suka
mengerjakan shalat sarnpai bengkak kedua kakinya. Terkadang aku duduk menan '
kctlka melihat apa yang dia perbuat terhadap dirinya.” (Siyar A'Igls
An-Nubala’, Adz-Dzahabi, 4/63-64)
226
AKU KHAWATIR
lA AKAN MERUSAK HATI DAN AMALKU.
Hasan .Al-Bashri mengatakan, “Demi
Allah, aku pernah berjumpa dengan orang-orang yang andaikata salah satu dari
mereka sangat membutuhkan'dan di sampingnya ada harta yang halal, niscaya dia
tidak akan mendatanginya lalu mengambil sebagian darinya." Lalu ketika ada
yang bertanya kepadanya, “Semoga Allah menyayangimu. Tidakkah engkau mendatangi
(harta) ini untuk membantu mengatasi keadaanmu?” Maka dia akan menjawab,
“Tidak. Demi Allah, aku benar-benar khawatir bahwa ia akan merusak hati dan
amalku.” (Az-Zuhd Al-Kabir, Al-Baihaqi, 95)
229
MENlNGGALKAN
SESUATU YANG MEMALINGKAN DIRI MU DARI ALLAH
Abu Sulaiman Ad-Darini mengatakan,
“Ketika kami berada di Irak, kami pernah berbeda pendapat tentang zuhud. Ada
yang mengatakan, bahwa zuhud adalah meninggalkan pertemuan dengan manusia. Ada
pula yang berpendapat zuhud adalah meninggalkan syahwat. Ada yang berpandangan
lain, bahwa zuhud adalah meninggalkan keyang. Ucapan mereka satu sama lapin
saling berdekatan. Sedangkan aku berpendapat bahwa zuhud adalah meninggalkan
sesuatu yang memalingkan dirimu dari Allah.” (Hilyatul Auliya', 9/ 258)
230
SlAPAKAH
YANG MEMLIKl lLMU?
Diriwayatkan bahwa Abdullah bin Salam
pernah bertemu dengan Ka'bul Ahbar di sisi Umar. Dia bertanya, “Wahai Ka’ab,
siapakah yang memiliki ilmu?” Dia menjawab, “Mereka yang mengamalkannya.”
“Lalu, apakah yang bisa menghilangkan ilmu dari hati para ulama setelah mereka
menghafalkan dan memahaminya?” tanya Abdullah. Dia menjawab, “Ilmu bisa hilang
karena ketamakan, kebusukan jiwa dan pamrih kepada manusia.” “Engkau benar,”
sahut Abdullah. (Jami ”ul Ilmi wa Fadluhu, Ibnu Abdil Bar, 2/ 8)
236-242
AIR MATA
BERCUCURAN Di SAAT BERPISAH DENGAN RASULULLAH YANG BENAR DAN DIBENARKAN
Awan gelap memayungi kaum muslimin ketika
berpisah dengan orang terkasih yang dicintai, gambaran kesedihan, hati-hati
merana, bersedih, isakan beberapa orang terdengar di masjid Rasulullah as…
tangisan para wanita terdengar di sana-sini.
Perpisahan dengan Muhammad bin Abdullah, penutup para Nabi
dan Rasul. Inilah saat-saat sebelum perpisahan...
Ketika para sahabat sedang menunaikan shalat di masjid
di belakang Abu Bakar, tiba-tiba kain penutup kamar Aisyah tai? terbuka,
Rasulullah ia muncul di balik kain itu, beliau melihat mereka , yang berbaris
di dalam shalat, beliau tersenyum, lalu Abu Bakar Laa mundur untuk berdiri di
shaf karena dia mengira bahwa Rasulullah ia akan keluar untuk shalat, kaum
muslimin hampir tergoda di dalam shalat mereka karena kebahagiaan mereka kepada
Rasulullah, tetapi beliau mengisyaratkan dengan tangannya agar mereka
meneruskan shalat, kemudian beliau masuk kamar dan menutup kain,
Orang-orang telah menyelesaikan shalatnya,
mereka mengira Nabi saw: telah membaik.
Padahal itu merupakan pandangan
perpisahan Nabi saw kepada sahabat-sahabatnya.
Nabi kembali
berbaring di pangkuan Aisyah, beliau menyandarkan kepalanya ke dada Aisyah,
sakaratul maut telah menimpanya.
Aisyah ma berkata, “Di hadapan beliau
terdapat ember keeil berisi air, beliau memasukkan tangannya dan membasuh
wajahnya seraya berkata, ‘La ilaaha illallah, kematian mempunyai
sekarat'."
Fatimah :
berkata ketika melihat itu, “Betapa berat penderitaanmu, wahai ayahku.”
Beliau lalu
berkata kepadanya, “Setelah ini ayahmu tidak akan menanggung penderitaan lagi.”
Rasulullah
terus mengambil air dari ember kecil dan membasuh wajahnya seraya berkata, “La
ilaaha illallah, kematian mempunyai sekarat.” Sehingga tangannya mulai
terkulai, lalu beliau mulai berkata, “Di Rafiqil a'la...di Rajiqil a'la...”
lalu beliau wafat. Maka tangan beliau lunglai. Alangkah beratnya musibah ini...
alangkah sulitnya penderitaan ini... alangkah besarnya kesedihan ini...
Benarkah Rasulullah % telah wafat? Benarkah wahyu terputus? Saat hati-hati
merana... mata terbelalak, kesedihan menyeruak, dan air mata bercucuran....
Marilah kita
melihat keadaan kaum muslimin dalam kesempatan ini.
Abu Bakar dia masuk masjid, dia tidak
mengajak seorang pun berbicara... dia tidak memperdulikan siapa pun… dengan
bergegas dia melangkah ke kamar Aisyah dia masuk, dia melihat Rasulullah tia
yang telah tertutup dengan kain bergaris. Abu Bakar & membuka wajahnya yang
mulia, kemudian menciumnya. Air matanya menetes pada saat perpisahan... air
mata yang sebenarnya, lalu dia berkata, “Saya mengorbankan untukmu bapak dan
ibuku, Allah mengumpulkan dua untukmu, adapun kematian yang ' telah ditakdirkan
untukmu maka engkau telah mengalaminya.” Lalu dia keluar.
Kita beralih ke masjid melihat Umar g,
dia marah... panik... dan berbicara, apa yang engkau bicarakan ya Al-Faruq?
Umar berbicara kepada mereka bahwa
Rasulullah aula tidak mati, tetapi beliau pergi kepada Tuhannya seperti
perginya Musa bin Imran... dia tea-3 belum mati sampai dia menghabisi
orang-orang munafik....
Wahai umar tetaplah di tempatmu… ya Umar demi Allah kamu sangat sedih...
berita itu benar-benar telah mempengaruhi dirimu.... Saudaraku, apakah kamu
menyalahkan Umar? Saudariku, apakah kamu menyalahkannya? Saya tidak
menyalahkannya, karena hal itu terdorong oleh rasa cinta... cinta kepada yang
benar dan dibenarkan, yang telah menyampaikan risalah dan memberi nasihat
kepada umat.
Ghirah Umar adalah memberangus
orang-orang munafik... orang-orang munafik yang berjiwa hitam, yang
berkepribadian penuh dengan lumpur. Umar ingin hal itu terwujud melalui tangan
penutup para Nabi dan Rasul.... Umar terus berbicara tentang itu.
Kita beralih ke salah satu sudut
masjid... lihatlah ke sudut masjid... siapakah di sana? Sebagian sahabat aja,…
mereka sedang apa? Sepertinya mereka menangis... ya benar, mereka menangis.
Alangkah sedihnya kalian para sahabat... alangkah terpukulnya kalian
saudara'saudaraku!
Abu Bakar datang, sepertinya dia ingin mengatakan
sesuatu. Dengarkanlah… sekarang dia berkata setelah alhamdulillah dan pujian
kepada-Nya, “Amma ba’du, wahai manusia, barangsiapa di antara kalian yang menyembah
Muhammad zag, maka dia telah mati... dan barangsiapa di antara kalian yang
menyembah Allah, maka Allah hidup dan tidak mati... firman Allah :
“Muhammad
itu tidak lain hanyalah seorang Rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya
beberapa orang Rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke
belakang ( murtad)? ' (QS. Ali-Imran: 144).
Seolah-olah orang-orang tidak
mengetahui bahwa Allah telah menurunkan ayat ini, sehingga Abu Bakar ata
membacanya kepada mereka, lalu orang-arang mengambilnya dari Abu Bakar, tidak
seorang pun yang menyimaknya kecuali mengulangnya. Umar ca.. berkata, “Demi
Allah, begitu saya mendengar Abu Bakar membacanya saya langsung luruh, kedua
kakiku tidak mampu menyanggah tubuhku, saya luruh ke tanah ketika dia membacanya,
dan saya mengetahui bahwa Nabi ata telah wafat.” Kebanyakan sahabat tertunduk
lesuh, mereka menangis....
Kenyataan...
kenyataan yang tidak bisa membendung keluarnya air mata....
Benar-benar...sungguh hari yang menyedihkan... memilukan... lihatlah
kota Madinah pada hari itu… ia menjadi kota air mata... air mata karena
berpisah dengan pemilik akhlak yang agung… air mata atas habisnya kesempatan
melihat Rasulullah ada di dunia. Dunia bermuram dengan wajah mereka, kesedihan
yang mendalam... sebagian mata belum merasakan tidur. Dengarkanlah Ummu Salamah
yang berkata, “Ketika kami berkumpul menangis tidak tidur sementara Rasulullah
ada di rumah kami dan kami terhibur dengan melihatnya di atas tempat tidur,
tiba-tiba kami mendengar suara yang terulang-ulang di waktu sahur, maka kami
berteriak dan penghuni masjid juga berteriak.”
Maka Madinah tergoncang dengan suara
satu, Bilal ia, mengumandangkan shalat subuh, ketika dia menyebut nama Nabi aa,
Bilal pun menangis tersedu-sedu, semakin menambah kami sedih, lalu orang-orang
ingin masuk ke kamar Rasulullah Saw. tetapi merekatidak diizinkan. Benar-benar
musxbah. Kita tidak tertimpa musibah getelah itu kecuali musibah itu sangatlah
ringan jika kita mengingat musibah wafatnya Rasulullah.
Inilah Fatimah putri Rasulullah & sangat bersedih, dia
berkata, “Wahai bapakku, telah memenuhi panggilan Tuhannya, wahai bapakku, di
Surga tempatnya, wahai bapakku, kepada Jibril kita menyampaikan berita kematiannya."
Ketika Rasulullah Saw di kubur, Fatimah berkata, “Ya Anas, apakah kalian tega
menimbunkan tanah di atas jasad Rasulullah ia.”
Tangisan tidak hanya di Madinah
saja... begitu pula di Makkah... tiba-tiba mereka mendengar berita wafat,
hati-hati menjadi sedih, Gubernur Makkah Suhail bin Amru & melakukan apa
yang dilakukan oleh Abu Bakar Ja.... Musibah yang menyelimuti seluruh wilayah
Islam.... Musibah besar, bahkan terbesar.... Rasulullah Pg bagi mereka adalah
saudara... teman... bapak... pemimpin dan Nabi.... Mereka memperebutkan sisa wudhunya
untuk tabarruk (mengharap berkah), mereka melaksanakan apa yang
diperintahkannya, menjauhi apa yang dilarangnya, mata mereka senantiasa
bercahaya melihatnya &, tanpa ada rasa bosan. Setiap dia & mengingatkan
mereka terhadap mereka, maka mereka menangis. Mereka tidak pernah bosan duduk
dengannya... menerima !ladisnya dengan dada yang lapang... menjaga apa yang
disampaikan kepada mereka. Saya bersaksi bahwa engkau telah menyampaikan
risalah, memberi nasihat kepada umat dan meninggalkan kami diatas jalan yang
putih, malamnya seperti siangnya, tidak melenceng darinya kecuali binasa.
Kita melihat
ya akhi, ya ukhti amal kita... dengan ilmu kita, kita bisa mengukur kecintaan
kita kepada Rasul kita.
Jika orang
yang mencintai mengikuti orang yang dicintai… maka lihatlah bagaimana urusannya
jika perintah mencintai itu datang dari Allah yang Rahman dan Rahim.
Angkatlah tanganmu bersamaku, kita
berucap doa, “Ya Allah Engkaulah harapan kami, tidak ada harapan bagi kami
selain Engkau, ya Allah kami belum melihat Rasulullah atas di dunia, maka
izinkanlah kami melihatnya di hari Kiamat.”
Sekarang saya merasakan ada tangisan
dari dalam yang muncul dari bayangan keadaan saat itu, ya air mataku menetes
karena sedih. Demi Allah seolah-olah musibah ada pada saat ini. Cukuplah wahai
tanganku engkau menulis, beri kesempatan kepada kedua mataku untuk meneteskan
air mata. Saya tidak menambah akan tetapi di sinilah air mata itu menetes.
258
HATIKU
HAMPIR-HAMPlR TERBANG
Betapa agungnya ayat-ayat Allah 933,
betapa agungnya membacanya ketika terlepas dari hati yang meresapi
maknanmknanya, rasa takut muncul ketika membaca ayat adzab, rasa harap
menyeruak ketika Surga dan kenikmatannya disebut. Sesungguhnya ikl-Qur'an
memiliki tempat khusus di hati generasi awal, berapa banyak orang kafir yang
masuk Islam karena menyimak tilawah AlQur'an yang bijak. Biarkanlah Jubair bin
Muth'im menceritakan kepada kita.
Dia berkata, “Saya datang ke Madinah
untuk berunding dengan Rasulullah saat tentang tawanan perang Badar, saya
mendatanginya ketika dia membaca surat At-Thur pada shalat maghrib, ketika dia
ia:, membaca:
“Sesungguhnya adzab Tuhanmu pasti
terjadi, tidak seorang pun yang dapat menolaknya.” (QS. At-Thur: 7-8),
seolah-olah hatiku terpecah, saya lalu masuk Islam karena takut turunnya adzab,
ketika dia membaca:
“Apakah mereka diciptakan tanpa
sesuatu pun ataukah mereka yang menciptakan diri mereka sendiri, ataukah mereka
telah menciptakan bumi dan langit itu? Sebenarnya mereka tidak meyakini apa yang
mereka katakan itu.” (QS. At-Thur: 35-36) maka hatiku hampir terbang.”
Jubair. bin Muth'im datang bukan untuk
masuk Islam, datang bukan untuk mendengar Al-Qur'an, dia datang untuk
merundingkan tawanan perang Badar dengan Rasulullah &, Allah 5% berkehendak
kedatangannya tepat di saat Rasulullah %; membaca Al-Qur'an di dalam shalat.
Ibadah shalat yang oleh Rasulullah &” katakan kepada Bilal, “Ya Bilal
istirahatkan kami dengannya.” Benar, ia untuk mengistirahatkan jiwa, badan dan
pikiran. Adalah Rasulullah £2 membaca surat At-Thur, kesempatan yang mulia.
Demi Allah yang tidak ada Rabb yang haq selain Dia, saya sangat merindukan
mendengar bacaan ayat-ayat itu dari Rasulullah 5%, saya mengidam-idamkan berada
di belakangnya pada saat itu. Tentu pembaca juga demikian?
Pada saat itu hembusan iman mengalir
ke hati Jubair bin Muth'im ia», lalu ruh dan jasadnya berpindah kepada
ayat-ayat itu, lalu dia merasakan hatinya terbelah karena kuatnya pengaruh
ayat' ayat terhadap pendengaran dan hatinya, kemudian dia berpindah secara
langsung dari gambaran akal ke alam nyata, dalam beberapa detik dia berpindah
dari kesyirikan kepada iman. Barangsiapa mengetahui ayat-ayat Allah tabaraka wa
taala dengan sebenarnya, niscaya dia mengetahui hakekat khusu'.
" * a Allah
jadi (anlah Al-Qur'an sebagai penenteram hati kami,
cahaya di
dada kami, pelenyap duka dan kesedihanku. Amin.
Yahya bin Muadz berkata:
“Barangsiapa makan sampai kenyang
maka ia
ditimpa tiga hal; .
penutup di atas hatinya .
kantuk di matanya
Dan rasa malas di tubuhnya.”
Ahmad bin
Hambal ditanya, “Kapan seorang hamba
merasakan mkmat zsnrahat?» Im Dia menjawab, “Pada saat injakan kaki yang
pertama kali di Surga.”
Siapa pun yang ingin meraih suatu
iujuan maka dia harus berusaha dengan sungguh-sungguh umuk mewujudkan tujuannya
itu. Bagaimana iika iuiuan itu adaiah ridha Allah tabaraka wa wala? 'Yuiuau
iermuiia. Adakah iuiuan iain seiain itu? Ya Aiiah, tujuanku adaiah mencari
ridha-Mu, maka berikan kekuatan kepadaku untuk mewuiudkannya.